Sumber: makasarnNews

Keberhasilan kinerja pertanian tidak lepas dari peran perempuan yang bekerja di sektor pertanian. Posisi perempuan di pertanian berbeda dengan laki-laki. Perempuan memiliki peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus pencari nafkah. Sebagai pencari nafkah, perempuan dituntut juga untuk menjadi pencari nafkah, baik utama maupun tambahan, terlebih pada rumah tangga dengan kepala keluarga adalah perempuan. Perempuan yang bekerja di sektor pertanian terlibat mulai dari kegiatan penanaman sampai panen dan pascapanen. Biasanya, mereka bekerja sebagai pekerja keluarga atau buruh pertanian. Namun, ada juga perempuan yang bekerja sebagai petani utama.

Data BPS hasil Survei Pertanian antar Sensus (Sutas) 2018 menyebutkan bahwa jumlah petani perempuan di Indonesia sekitar 8 juta orang. Artinya, hampir 24 persen dari 25,4 juta orang petani adalah petani perempuan. BPS juga mencatat, jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan perempuan sebagai pemimpin dalam rumah tangga berjumlah sekitar 2,8 juta rumah tangga. Fakta tersebut menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang terlibat dalam sektor pertanian cukup besar. Namun, di tengah peran strategis petani perempuan dalam mendukung kegiatan pertanian, mereka dihadapkan pada berbagai permasalahan yang mengancam kualitas hidup mereka.

Masalah utama adalah kemiskinan. Perempuan sebagai kepala rumah tangga banyak ditemui pada rumah tangga miskin. Persentase rumah tangga miskin yang dipimpin oleh perempuan sebesar 15,88 persen dari hampir 3 juta rumah tangga usaha pertanian, sebuah angka yang tidak sedikit. Pada Maret 2020, kemiskinan pada rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan mencapai 7,82 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kemiskinan pada rumah tangga yang dipimpin oleh laki-laki (7,79 persen).

Di tengah ancaman Covid-19, petani perempuan yang sekaligus menjadi ibu rumah tangga, terpaksa harus menghadapi kebijakan pemerintah berupa penerapan school from home (SFH). Mereka harus mendampingi anak-anak mereka dalam menjalani pendidikan dari rumah. Kondisi tersebut membuat beban perempuan bertambah berat karena tugas mendidik dijalankan bersamaan dengan mengurus rumah tangga dan bekerja.

Di bidang pertanian, perempuan dengan jumlah hampir setengah dari total penduduk Indonesia merupakan kunci kesejahteraan bangsa dan berperan penting dalam pembangunan, salah satunya memperkuat ketahanan pangan dan pertanian melalui digitalisasi. Untuk ini, berbagai pihak berupaya memperkuat peran perempuan. Salah satunya diberitakan oleh HKTI yang memberikan pelatihan pembuatan frozen food dan membina wirausaha lokal, serta Gerakan Tanam Serentak Seluruh Indonesia. Berbagai kegiatan tersebut  dilaksanakan sebagai upaya dalam mendukung peningkatan ekonomi dan ketahanan pangan nasional, dimulai dari keluarga. Kegiatan dijalankan pada kelompok Perempuan Tani HKTI yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di masa adaptasi kebiasaan baru, keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT) di setiap desa menjadi semakin penting. Hal ini sejalan dengan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang diusung Kementan sebagai salah satu program dalam upaya meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan yang berkelanjutan. Sebagai misal, KWT Sumber Rejeki, Desa Budur, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon yang masih tetap berusaha produktif meski terbatas oleh kondisi ekonomi dan sosial ditengah pandemi Covid-19. Berbekal bantuan dari Kementan, mereka menanam sayuran berupa kangkung, bayam, sawi, seledri, terong, kembang kol, cabai, dan kucai. Selain sayuran mereka juga menanam buah-buahan dan rempah seperti lengkuas, jahe, dan kencur. Bukan hanya itu, budidaya ikan lele juga tak luput mereka usahakan.

KWT Sumber Rejeki memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam dengan menggunakan irigasi kapiler, yaitu model budidaya tanaman dalam polybag atau wadah berisi akses air terus menerus melalui kapiler berbahan kain flanel, selanjutnya  sistem kapiler ini juga diintegrasikan dengan budidaya ikan. Selain memproduksi sayuran, pada saat yang sama kebutuhan protein hewani juga terpenuhi. Inovasi tersebut mengantarkan KWT Sumber Rejeki sebagai juara kedua tingkat nasional pada peringatan Hari Tani, 24 September 2020 lalu. Acara tersebut digelar oleh Kementan bidang Ketahanan Pangan KRPL di Lembang, Provinsi Jawa Barat. KWT Sumber Rejeki sangat menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bisa jadi sebagai upaya menjaga produksi pangan secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan KWT tak hanya menanam dan budidaya, akan tetapi mereka juga menyelenggarakan pelatihan membuat kue, membuat serbuk jahe dari hasil panen, hingga membuat pupuk kompos sendiri dengan memanfaatkan limbah rumah tangga kaya sampah sayuran sama air cucian beras. (SYT)

 

Sumber:

Digitalisasi Perempuan Tani, Perkuat Ketahanan Pangan dan Pertanian Bangsa. 19 Desember 2020. PUBLIKASI DAN MEDIA  KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK.

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/3011/digitalisasi-perempuan-tani-perkuat-ketahanan-pangan-dan-pertanian-bangsa

Novi Fuji Astuti. Wujudkan Ketahanan Pangan saat Pandemi, Kelompok Wanita Tani Cirebon Lakukan Inovasi. 3 Desember 2020. https://www.merdeka.com/jabar/peran-kelompok-wanita-tani-wujudkan-ketahanan-pangan-di-masa-pandemi-kln.html?page=2

Novita Ayuningtyas. 22 Desember 2020. Membangun Ketangguhan Petani Perempuan. https://jatengdaily.com/2020/membangun-ketangguhan-petani-perempuan/

 

0
0
0
s2smodern
powered by social2s