Diversifikasi Pangan: Hikmah di Balik Pandemi Covid 19
sumber: villagerspost.com

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat Pandemi Covid-19 di berbagai wilayah secara langsung dan tidak langsung mengganggu penyediaan (supply) pangan melalui gangguan distribusi (distribution shock), sehingga ketersediaan pangan di tingkat pengecer dan rumah tangga terganggu. Walaupun PSBB sudah mulai dilonggarkan sejak awal Juli yang lalu, namun kondisi pasar pangan belum sepenuhnya pulih. Pandemi Covid-19 juga mengganggu pola permintaan (demand) pangan. Kebijakan seperti work from home (WFH) bagi yang bekerja dan secara umum kebijakan #dirumahsaja, penghentian/pembatasan sementara kegiatan produksi industri/UMKM, pembatasan/pelarangan pada rumah makan/restoran untuk menyediakan makanan untuk dikonsumsi di tempat berdampak pada perubahan pola permintaan pangan.

Perubahan dari sisi supply dan demand tersebut berdampak pada tingkat harga pangan. Untuk komoditas pangan utama yang dibutuhkan masyarakat, perubahan harga pangan akan berdampak pada perubahan konsumsi karena terkait daya beli untuk akses pada pangan yang dibutuhkan. Penghentian sementara berbagai kegiatan ekonomi terutama pariwisata, perhotelan dan berbagai industri jasa selama pandemi Covid-19 berdampak adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berujung pada turunnya pendapatan, daya beli dan akses terhadap pangan. Dengan demikian, pandemi Covid-19 baik langsung maupun tidak langsung juga berdampak pada pola konsumsi pangan masyarakat.

Kasus pandemi Covid-19 ini memberi pelajaran bahwa kemandirian pangan tidak dapat menggantungkan hanya pada beras sebagai pangan sumber karbohidrat. Diversifikasi produksi pangan sumber karbohidrat harus digalakkan kembali, sehingga diharapkan akan tumbuh keragaman konsumsi pangan lokal. Indonesia memiliki keanekaragaman dan sumber daya genetik pangan lokal dalam jumlah banyak dan spesifik untuk setiap daerah. Berbagai komoditas pangan spesifik lokasi ini adaptif dengan lingkungan ekologis setempat sehingga sangat tepat ditanam pada situasi iklim yang tidak menentu saat ini. Regulasi yang menjadi payung hukum dalam mengatur pengembangan pangan lokal sudah ada, seperti Undang-Undang Pangan No.18 tahun 2012 tentang Pangan dan Perpres No.22 tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia (setelah Brazil) dalam keanekaragaman hayati (biodiversity). Potensi sumber pangan kita sangat besar baik dalam jenis maupun jumlahnya. Ironisnya, data dinamika pola konsumsi pangan (pokok) kita dari waktu ke waktu justru mengarah pada pola pangan tunggal yaitu beras (dan dalam beberapa dekade terakhir diikuti dengan ketergantungan pada terigu, yang notabene berasal dari impor). Selain itu, pola konsumsi pangan rata-rata penduduk Indonesia juga belum sepenuhnya sesuai dengan rekomendasi standar kecukupan dan atau keragaman komposisi zat gizi. Dalam hal ini konsumsi pangan sumber karbohidrat melebihi standar kecukupan, namun untuk konsumsi sayur dan buah serta pangan sumber protein hewani masih kurang dari standar kecukupan. Pada situasi demikan maka diversifikasi konsumsi pangan terutama untuk mendorong peningkatan konsumsi sayur, buah dan sumber protein merupakan program dan strategi penting dan perlu terus digalakkan dalam upaya meningkatkan kualitas konsumsi pangan.


Diversifikasi Pangan: Hikmah di Balik Pandemi Covid 19
sumber: freepik.com

Terkait dengan upaya diversifikasi pangan, selama ini Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) telah merintis program pemanfaatan pekarangan yaitu Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang kemudian diperluas menjadi Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dengan peserta program tidak hanya kelompok wanita tani (KWT) namun juga karang taruna, santri dan organisasi pemuda lainnya. Jenis pangan yang dikembangkan meliputi sayuran, pangan lokal, bumbu-bumbuan dan buah-buahan serta unggas. Pada tahun 2020, BKP mengembangkan pangan lokal melalui program Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL1000) dalam bentuk pendampingan teknologi, pengemasan (packaging), pemasaran, dan akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kedua program ini hendaknya dapat dilanjutkan secara konsisten dan diperbesar sasaran dan volume kegiatannya. Hal ini dapat dijadikan komplemen dengan jaring pengaman sosial bagi rumah tangga kelompok pendapatan rendah/miskin untuk bisa meningkatkan kemampuan produksi pangan sayur/buah tanaman semusim dan sumber protein unggas di sekitar rumah.

Pemerintah menyadari pentingnya melakukan diversifikasi pangan, yang kemudian diwujudkan dengan berbagai kebijakan dan program diversifikasi konsumsi pangan yang dirintis sejak awal dasawarsa 60-an. Perjalanan panjang kebijakan dan program diversifikasi konsumsi pangan tersebut telah dikompilasi oleh Ariani (2012) sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Terlihat bahwa program-program Kementerian Pertanian yang terkait langsung dan tidak langsung dengan konsumsi dan penganekaragaman atau diversifikasi pangan terutama untuk diversifikasi konsumsi pangan telah dilakukan sejak tahun 1960-an sampai sekarang.

Diversifikasi Pangan: Hikmah di Balik Pandemi Covid 19


Kebijakan yang cukup menonjol, misalnya pada tahun 1974 secara eksplisit pemerintah mencanangkan diversifikasi pangan melalui Inpres No. 14 tahun 1974 tentang Upaya Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR). Maksud dari instruksi tersebut adalah untuk lebih menganekaragamkan jenis pangan dan meningkatkan mutu gizi makanan rakyat baik secara kualitas maupun kuantitas sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Sayangnya program tersebut mengalami kevakuman dan baru tahun 1991 muncul program diversifikai konsumsi pangan. Program ini dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian dengan nama Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG), yang dalam pelaksanaannya dalam bentuk program pemanfaatan lahan pekarangan. Program DPG bertujuan untuk: (1) mendorong meningkatnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, dan (2) mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat terutama di perdesaan untuk mengonsumsi pangan yang beranekaragam dan bermutu gizi seimbang.

Selanjutnya, kebijakan yang langsung terkait dengan upaya peningkatan diversifikasi pangan di Kementerian Pertanian adalah Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Untuk mendukung gerakan tersebut Badan Ketahanan Pangan (BKP) melaksanakan kegiatan terkait diversifikasi konsumsi pangan yang dikenal gerakan Percepatan Diversifikasi Konsumsi Pangan (P2KP) yang dimulai sejak tahun 2010. Tujuan umum program P2KP adalah memfasilitasi dan mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman yang diindikasikan dengan skor PPH dengan indikator outcome adalah meningkatnya skor PPH dari tahun ke tahun dan menurunnya konsumsi beras 1,5 persen per tahun (BKP 2012). Kementerian Pertanian juga menyusun Roadmap Diversifikasi Pangan (RDP) tahun 2011-2015 (BKP 2011) sebagai acuan bagi pemangku kepentingan dalam upaya meningkatkan diversifikasi pangan secara lebih terintegrasi, sinergis, efektif dan efisien untuk meningkatkan keragaman dan kualitas konsumsi pangan masyarakat, selain juga sebagai upaya penanganan rawan pangan.

Berdasar kondisi tersebut, pada masa depan, keberhasilan program diversifikasi konsumsi pangan merupakan strategi yang perlu mendapat prioritas. Searah dengan itu, perbaikan gizi masyarakat perlu difokuskan pada upaya-upaya perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang, perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi, dan peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi. Kementerian Pertanian dapat berperan aktif dalam upaya peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi untuk indikator-indikator aspek ketersediaan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan.

Salah satu kebijakan terkini Kementerian Pertanian melalui BKP terkait penyediaan pangan saat pandemi Covid-19 dan relevan dengan upaya peningkatan diiversifikasi pangan adalah program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Adapun rancangan program dan target lokasi sampai tahun 2024 dapat disimak pada Gambar 1.

PROGRAM PEKARANGAN PANGAN LESTARI (P2L)

Diversifikasi Pangan: Hikmah di Balik Pandemi Covid 19

Gambar 1. Rancangan program dan lokasi pengembangan program P2L, 2020 – 2024

0
0
0
s2smodern
powered by social2s