Sumber: iotdesignpro.com

Penurunan produksi pertanian dalam negeri karena pandemi Covid-19 akan mengancam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Selain itu, pandemi Covid-19 periode bulan Maret hingga November 2020 telah menurunkan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian sekitar 1% - 4,87%, sedangkan investasi di sektor pertanian berkurang 2%-3,7% (CIPS 2020). Menghadapi ancaman krisis pangan, pemerintah perlu memperkuat produksi hasil pertanian dan ketersediaan pangan lokal untuk menggantikan komoditas pangan impor dengan salah satu usaha yaitu  melalui pertanian cerdas atau smart farming 4.0. Smart farming adalah sebuah metode pertanian cerdas berbasis teknologi yang menggunakan artificial intelligent (AI) yang memudahkan petani untuk melakukan pekerjaannya (MSMB 2020). Kementerian Pertanian telah bekerja keras untuk membuat terobosan  teknologi agar dapat memberikan dampak yang terbaik terhadap petani. Keterlibatan Kementerian lain seperti Kementerian Pembangunan Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dinilai juga turut berperan penting dalam membantu petani meningkatkan produktivitas.  Selain itu, dengan mengembangkan pertanian cerdas di tengah pandemi Covid-19 juga dipandang sangat relevan, yaitu dapat membantu mengurangi aktifitas petani berkumpul di suatu lahan sehingga dapat mengurangi penyebaran virus Covid-19.

Kebijakan Kementerian Pertanian Mendukung Smart Farming 4.0

Saat ini, Kementerian Pertanian sedang merumuskan tiga strategi untuk mengatasi Covid-19 dan sedang mengembangkan rencana peningkatan pasokan pangan di era normal baru. Tiga agenda utama Kementerian Pertanian selama pandemi Covid-19 adalah: (1) agenda darurat/jangka pendek meliputi stabilitas harga pangan, fasilitas pembiayaan petani, dan pertanian padat karya; (2) agenda sementara/jangka menengah, yaitu diversifikasi pangan lokal, mendukung daerah-daerah defisit dan rawan kekeringan; (3) agenda jangka panjang mencakup memperluas tanaman pangan, meningkatkan produksi setiap tahun, mengembangkan perusahaan tani dan mengembangkan petani milenial (Kementan 2020a). 

Pengembangan smart farming CB 4 dengan integrasi perangkat IoT (Internet of Things), pemanfaatan drone, aspek Brainware-Hardware-Software pertanian, analisis sensor untuk produksi pertanian, hingga manajemen sumber daya dengan melibatkan perguruan tinggi. Salah satu tujuannya adalah untuk menarik generasi milenial berkiprah dalam dunia pertanian. Petani milenial sebagai bagian dari regenerasi dipilih untuk menggantikan para petani yang mayoritas sudah berusia lanjut. Dominasi petani dalam kategori usia tua di Indonesia dengan latar belakang pendidikan SD bahkan tidak sekolah dirasa kurang mendukung untuk kemajuan pengembangan pertanian di tanah air. Selain itu yang menjadi tujuan generasi milenial untuk berpartisipasi, karena dalam konsep pertanian cerdas 4.0 penggunaan internet akan dimaksimalkan untuk meningkatkan produktivitas dengan cepat karena biasanya generasi milenial sangat dekat dengan internet. Oleh karena itu, generasi milenial ini diharapkan dapat lebih cepat menerapkan pertanian cerdas, bahkan akan muncul inovasi-inovasi baru di bidang pertanian.Untuk melaksanakan ketiga agenda tersebut, Kementerian Pertanian telah menyiapkan lima metode Cara Bertindak (CB) sebagai penyangga rencana peningkatan pasokan pangan di era new normal. CB1 merupakan peningkatan kapasitas produksi melalui percepatan tanam dan perluasan areal tanam, pengembangan sekitar 164.598 hektare lahan rawa di Kalimantan Tengah, serta peningkatan produksi gula, daging sapi dan bawang putih sebagai respons terhadap permasalahan impor. CB2 adalah pengembangan diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal yang menitikberatkan pada produk berkualitas tinggi dari suatu daerah atau provinsi melalui pemanfaatan pekarangan marjinal dan tata lahan yang berkelanjutan. CB3 memperkuat penyimpanan gabah dan sistem logistik untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan, sedangkan CB4 adalah pengembangan smart farming dengan melibatkan perguruan tinggi, pembangunan dan  pemanfaatan screen house (rumah kasa) untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam, pengembangan food estate, dan pengembangan usaha tani, dan terakhir CB5 yakni meningkatkan gerakan tiga kali ekspor (Kementan 2020a).

Selain itu dampak pandemi Covid-19 yang paling nyata adalah meningkatnya jumlah karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Untuk itu, dengan adanya pertanian cerdas ini diharapkan bisa  mengurangi pengangguran dengan menarik kaum muda bekerja di bidang pertanian.


Pertanian Cerdas 4.0 untuk Pertanian yang Maju, Mandiri dan Modern

Pertanian Cerdas 4.0 akan mendorong kerja petani dengan menerapkan teknologi yang membuat kegiatan budidaya pertanian yang cerdas, efisien, terukur, dan terintegrasi. Konsep pertanian cerdas  secara sederhana bisa diartikan sebagai pertanian presisi. Petani bisa melakukan budidaya dengan tidak tergantung musim tetapi melalui mekanisasi.  Dengan demikian, proses penanaman hingga panen dapat dilakukan secara efektif, dan efisien dalam tenaga kerja, waktu tanam, dan proses panen.

Melalui Direktorat Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT), Kemendes PDTT dan Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur,  telah bekerjasama untuk melakukan ujicoba pertanian cerdas 4.0 di Desa Battal, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo Panji, Jawa Timur. Teknologi yang diciptakan oleh anak-anak tanah air ini merupakan produk dari PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB), sebuah perusahaan teknologi pertanian di Yogyakarta yang menggunakan aplikasi RiTx berbasis android. Pertanian kini bisa jadi agri”cool”ture dan menarik minat anak muda untuk bertani. Dengan meningkatnya produktivitas pertanian diharapkan nantinya akan meningkatkan potensi daerah tersebut (MSMB 2018). 

 Sumber: iotdesignpro.com

Kunci utama pertanian cerdas 4.0 adalah data yang terukur. Teknologi yang digunakan dalam pertanian cerdas 4.0 termasuk Agri Drone sprayer (drone untuk menyemprotkan pestisida dan pupuk cair), Drone Surveillance (drone untuk pemetaan lahan), dan Soil and Weather Sensor (sensor tanah dan cuaca). Agri Drone untuk aplikasi pestisida, pupuk cair dan penyiraman yang lebih tepat sehingga dapat menghindari penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan. Dengan daya dukung hingga 20 liter, 1 hektare bisa disemprot dalam waktu 10 menit. Tidak hanya itu, dengan dukungan drone surveillance, pemetaan darat juga dapat dilakukan. Dari hasil pemetaan berupa foto maupun video, petani dapat mengetahui kondisi tanaman di lahannya (Ditjen PDTT 2019).

Adanya Soil and Weather Sensor (sensor tanah dan cuaca) yang dipasang di lahan pertanian akan membantu petani memantau, mengukur dan mencatat kondisi tanaman. Data yang didapat dari sensor ini meliputi udara dan kelembaban tanah, suhu, pH tanah, kadar air dan perkiraan waktu panen. Jika terjadi anomali pada lahan mereka, petani akan mendapat peringatan dini. Disamping itu, petani juga akan mendapatkan rekomendasi agar tidak terjadi kerusakan terhadap lahan dan tanaman. Selain itu, teknologi Water Debit Sensor adalah perangkat yang inovatif untuk menyelesaikan permasalahan debit air yang fluktuatif untuk irigasi (Ditjen PDTT 2019).

Smart farming  4.0  bukanlah hal yang baru dalam dunia pertanian. Di Shanghai, China, lahan sawah tidak lagi digarap secara langsung oleh para petani melainkan digarap dengan AI yang dapat secara otomatis untuk menanam di lahan sawah. Shanghai telah mempelopori pertanian nir-awak pertama untuk meningkatkan efisiensi pertanian dan mengurangi biaya tenaga kerja. Sejauh ini, mesin pertanian otomatis telah digunakan dalam seluruh proses produksi pertanian di sawah seluas lebih dari 133.333 meter persegi di Waigang, Shanghai (SmartcityIndo 2020).


Para ahli di Waigang sedang merakit lebih banyak mesin pertanian, seperti mesin penanam padi, mesin penyemprot pestisida, dan mesin pemanen, menjadi mesin tak berawak. Bila dibandingkan dengan sistem pertanian tradisional, mesin pertanian nir-awak dapat menghemat lebih dari 2 kilogram benih dan meningkatkan hasil panen hingga mencapai 10 kilogram pada lahan pertanian seluas 667 meter persegi. Biaya bahan bakar dan tenaga kerja akan sangat berkurang masing-masing sebesar 50% dan 65%. Sementara itu, tingkat pemanfaatan lahan akan meningkat 0,5 hingga 1 persen. Otoritas lokal di Waigang akan mengembangkan lebih lanjut pertanian otonomos dengan menggunakan teknologi seperti Internet of Things (IoT), jaringan 5G, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Zona percontohan pertanian nir-awak di Waigang diharapkan akan diperluas hingga 107 hektar pada akhir tahun 2022. Dalam lima tahun ke depan, Shanghai berencana untuk  membangun 13 zona percontohan pertanian  untuk mendorong pengembangan pertanian berkualitas tinggi (SmartcityIndo 2020).

Pada tahun 2019, Kementerian Pertanian juga telah fokus mengembangkan pertanian cerdas oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Mekanisasi Pertanian (BB Mektan) dengan membuat teknologi berbasis IoT yaitu sistem irigasi cerdas (smart irrigation). Sistem irigasi cerdas yang dapat terhubung secara langsung menggunakan internet dengan pusat pemantauan data dan pengendalian melalui web server (www.smartfarming.litbang.pertanian.go.id 2020). Alat ini menggunakan sensor pembacaan kondisi lahan seperti kadar air tanah, kelembaban tanah, stasiun cuaca mini dan lingkungan sekitar, dan sistem kontrol untuk menyalakan/mematikan katup irigasi dengan menggunakan micro controller. Pada server ini telah diprogram ada dua tindakan yang akan dilakukan sebagai bentuk respons setelah menerima data dari lahan yaitu tindakan penyiraman otomatis apabila ada data nilai ambang batas pembacaan sensor kadar lengas tanah. Kedua, fitur penyiraman jarak jauh secara otomatis yang dapat dikendalikan meski pengguna sedang berada di lokasi yang berbeda. Selain itu, pemberian unsur hara dan pendeteksi kesuburan tanah juga telah terhubung secara langsung dengan unsur pertumbuhan tanaman lainnya (Balitbangtan 2020). 

 Sumber: fulldronesolutions.com

Selain itu Kementerian Pertanian juga telah memiliki Agriculture War Room yang memiliki fungsi pengawasan dan pengendalian serangan hama, memantau penyebaran benih dan bibit unggul, alat komunikasi langsung antara pemerintah dan petani dengan sensor data yang menyajikan hasil produksi pertanian (Kementan 2020b). Penerapan pertanian cerdas  4.0 diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan pertanian. Berawal dari Kabupaten Situbondo dan belajar dari Shanghai, penerapan metode pertanian cerdas bisa menjadi kunci pertanian Indonesia di masa depan.

Ujicoba Smart Farming di Tengah Pandemi Covid-19

Kemendes PDTT telah membuat roadmap smart farming 4.0 yang dimulai dari: (i) Kabupaten Sleman dan Kabupaten Wonogiri melakukan ujicoba penggunaan alat drone sprayer pada lahan jagung di Kabupaten Sleman dan peninjauan alat soil and weather sensor pada area persawahan di Kabupaten Wonogiri; (ii) Kabupaten Sumbawa telah melakukan ujicoba penggunaan alat drone sprayer dan soil and weather sensor di area persawahan Kabupaten Sumbawa; (iii) Kabupaten Sumbawa Timur telah melakukan ujicoba penggunaan alat drone sprayer dan soil and weather sensor  di area persawahan Kabupaten Sumbawa Timur; (iv) Kabupaten Situbondo telah melaksanakan launching smart farming 4.0 dan uji coba penggunaan  alat (drone sprayer, soil and weather sensor  dan water debit sensor); (v) Kabupaten Tabanan telah melakukan ujicoba penggunaan alat (drone sprayer, soil and weather sensor  dan drone surveillance) (Ditjen PDT 2019). Semua teknik ini membantu menciptakan pertanian presisi, dengan menggunakan citra satelit dan teknologi lainnya (seperti sensor) untuk mengamati dan merekam data dengan tujuan meminimalkan biaya dan menghemat sumber daya sekaligus meningkatkan hasil produksi.


 Sumber: fulldronesolutions.com

Untuk membangun sistem pangan nasional hingga global yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan cara yang berkelanjutan diperlukan perubahan di sepanjang rantai pasokan pangan. Integration of Technology merupakan salah satu  dari strategi bisnis inti dalam sektor pertanian. Integrasi tersebut juga menjadi kunci utama efektivitas di program smart farming. Munculnya teknologi blockchain membuat jalan ke IoT bisa menjadi penting di sektor pertanian karena kemampuannya untuk menyediakan data tentang tanaman yang dibutuhkan petani. Petani dapat menggunakan sensor untuk mengumpulkan data terkait budidaya tanaman, yang ditulis di blockchain, dan mencakup faktor-faktor pengidentifikasi hama penyakit tanaman, serta tingkat pH tanah. Tidak hanya itu, guna mengoptimalkan proses pertanian, perangkat IoT yang dipasang di pertanian dapat mendukung proses dan pengumpulan data, sehingga petani dapat bertindak cepat dalam mengambil keputusan terhadap masalah yang muncul dan adanya perubahan dalam kondisi sekitar. Analisis data dapat membantu memantau produktivitas dan  membuat prediksi yang lebih akurat. Hal ini juga sangat penting  dalam menjaga efisiensi produksi pertanian sehingga risiko gagal panen (Jeager 2020).

Pertanian cerdas diterapkan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi antara sistem informasi manajemen, teknologi presisi, dan cyber physical system. Keberlanjutan pertanian 4.0 sangat tergantung kepada ketersediaan data (big data), ketersediaan jaringan internet, lembaga pengelola, SDM yang kompeten, regulasi pemerintah, dukungan dana pemerintah, dan tentunya partisipasi petani. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah memberikan dukungan  untuk menyambut  era pertanian Indonesia 4.0. Sektor pertanian sekarang sudah masuk dalam era pertanian 4.0. Semua sektor sudah menerapkan digitalisasi, menggunakan teknologi dan mekanisasi. Era 4.0 ini sangat dekat dengan generasi milenial. Oleh sebab itu, kedepannya generasi milenial  diharapkan untuk terjun ke sektor pertanian sekaligus memajukannya (Kompas 2020).

Menerapkan smart farming 4.0 di Indonesia agaknya menjadi tantangan tersendiri mengingat tingkat pendidikan para petani di Indonesia yang relatif masih rendah, belum lagi ditambah biasanya para petani cenderung menerapkan pola budidaya warisan leluhur, beragamnya karakteristik lahan pertanian di Indonesia sehingga rasanya perlu usaha tersendiri untuk menerapkan smart farming 4.0 di Indonesia. Namun, semua tantangan ini  bila disikapi dengan bijak smart farming masih sangat mungkin untuk diterapkan. Pilot Project  yang telah dilakukan oleh  Kemendes PDTT di beberapa daerah di Indonesia bisa dijadikan bahan untuk monitoring dan evaluasi untuk menerapkan smart farming  dalam skala yang lebih luas lagi. Kementerian Pertanian juga dapat membuat roadmap penerapan smart farming  dengan melibatkan berbagai stakeholder seperti perusahaan startup yang sudah lebih dulu eksis seperti TaniHub, Eragano, Crowde, dll. Melibatkan perguruan tinggi untuk menarik milenial berkiprah di bidang pertanian dengan smart farming 4.0 juga perlu untuk dipertimbangkan karena kaum milenial identik dengan penguasan teknologi yang lebih cepat dan tentu saja ini dilakukan untuk mendorong regenerasi di bidang pertanian. Apabila rencana besar Pemerintah untuk menerapkan food estate di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah telah berjalan, maka smart farming akan sangat sesuai untuk diterapkan agar hasil yang didapat semakin maksimal. Sehingga cita-cita menjadikan pertanian Indonesia yang maju, mandiri dan moderen bukanlah sekedar wacana lagi.


Penutup

Ditengah pandemi Covid-19 inilah saat yang tepat untuk mengkaji dan meneliti sektor pertanian di Indonesia. Ada ruang eksperimen untuk sistem pertanian sehingga kita bisa mengkaji titik-titik yang menjadi kelemahan agar ketahanan pangan dan cita-cita swasembada pangan bisa tercapai. Penerapan metode pertanian cerdas 4.0 bisa jadi salah satu cara mengatasi permasalahan di sektor pertanian Indonesia. Memang tidak mudah menerapkan smart farming ditengah beragamnya tingkat pendidikan petani di Indonesia yang didominasi tenaga kerja tua, namun regenerasi pertanian harus tetap dilakukan. Smart farming yang identik dengan pemanfaatan teknologi diharapkan bisa menarik kaum milenial untuk eksis berusaha di sektor pertanian sehingga pertanian dapat dipandang sebagai usaha/bisnis yang sangat menjanjikan dan tidak kalah dengan dengan sektor lainnya.

 Sumber: iotdesignpro.com

Masa depan pertanian Indonesia adalah pertanian yang cerdas berbasis teknologi. Diharapkan petani mendapatkan pemahaman tentang pemanfaatan lahan yang diperlukan, namun hasilnya memuaskan dan biayanya lebih efisien. Dengan pertanian cerdas, efektivitas dan produktivitas usaha tani lebih terukur karena semua kegiatan petani didasarkan analisis data yang akurat. Masuknya era pertanian pintar berbasis integrasi teknologi akan membuat budidaya pertanian semakin efektif sehingga lebih akurat dalam menentukan besarnya kebutuhan saprodi. Bahkan, lahan tidur yang kurang produktif kini sudah dimanfaatkan untuk tanaman pangan dan hortikultura. Kementerian Pertanian perlu bekerjasama dan mengambil bagian dalam menerapkan smart farming bersama Kemendes PDTT. Selain itu Kementerian Pertanian perlu lebih serius lagi dengan membuat roadmap smart farming yang lebih besar seperti Kemendes PDTT dengan tidak hanya di beberapa wilayah saja namun juga harus melibatkan berbagai stakeholder  yang berkepentingan. Program besar Kementerian Pertanian yaitu Konstra Tani dan food estate akan sangat membantu dalam mendukung smart farming 4.0 sehingga untuk mewujudkan kemandirian pangan Indonesia bisa diwujudkan. (RRR)

0
0
0
s2smodern
powered by social2s