Tim Peneliti: Saktyanu K. Dermoredjo (Ketua), Sahat M. Pasaribu, Delima H. Azahari, Eddy S. Yusuf

Ringkasan
Dideklarasikannya ASEAN di tahun 1967 merupakan rintisan awal dari kerjasama regional. Setelah diberlakukan piagam ASEAN tahun 2008, Indonesia mengesahkan Piagam ASEAN melalui Undang-Undang Nomor 38 tahun 2008 yang isinya terkait dengan pembentukan suatu komunitas ASEAN pada tahun 2015 yang didasarkan pada tiga (3) pilar, yaitu Komunitas Politik ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN, dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN, selanjutnya terdapat landasan kebijakan dalam mengikuti MEA yaitu melalui INPRES 6/2014 tentang Peningkatan Daya Saing Nasional Dalam Rangka Menghadapi MEA yang isinya 14 strategi menghadapi MEA.  Diantara strategi tersebut adalah pedoman khusus untuk pengembangan pertanian, yaitu: (1) Peningkatan investasi Langsung di Sektor Pertanian; dan (2) Peningkatan akses pasar.  Menghadapi pasca 2015, ASEAN memiliki visi 2025, yaitu (1) Perekonomian yang terintegrasi penuh dan terpadu; (2) berdaya saing, inovatif, dan dinamis, (3) konektivitas dan kerjasama sektoral, (4) tangguh, inklusif, serta people oriented dan people-centered, dan (5) ASEAN yang mengglobal.  Seiring dengan proses terbentuknya MEA 2015, telah terjadi perluasan kerjasama perdagangan antara ASEAN dengan 6 negara mitra, yaitu Tiongkok, India, Jepang, Australia, Selandia Baru dan Korea Selatan dengan menjalin kesepakatan dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) tahun 2012. Tujuan utama pendirian RCEP adalah untuk memperluas dan mempererat basis kerjasama ekonomi diantara negara-negara yang terlibat, dalam bingkai pengembangan pasar bebas (free trade area) di kawasan Asia-Pasifik. Dalam konteks keberlanjutan Indonesia membutuhkan pemahaman yang baik tentang MEA dan RCEP, baik bagi pengambil maupun pengguna kebijakan sektor pertanian tentang perkembangan dan dampak kegiatan ekonomi dalam komunitas MEA dan kerjasama RCEP. Dalam kaitan inilah penelitian ini diajukan agar dapat merumuskan implikasi dan arah kebijakan pembangunan pertanian yang lebih baik dalam kerangka MEA dan RCEP. Penelitian inti bertujuan untuk (1) mengetahui perkembangan kebijakan dan implementasi MEA terkait sektor pertanian di Indonesia, ASEAN dan RCEP; (2) mengetahui perkembangan investasi dan perdagangan komoditas pertanian Indonesia dengan ASEAN dan RCEP, dan (3) menganalisis dampak investasi dan perdagangan pada MEA dan RCEP terhadap kinerja komoditas pertanian di Indonesia. Sintesis dari ketiga tujuan diatas diharapkan dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi kebijakan sektor pertanian dalam kerangka kerja MEA dan RCEP. Alat analisis yang digunakan dalam tujuan (1) dan (2) adalah dengan pendekatan deskriptif, dan tujuan (3) dengan analisis Global Trade Analysis Project (GTAP).  Tujuh komoditas terpilih sebagai sampel dalam penelitian ini untuk melihat secara mendalam terhadap kegiatan ekonomi dalam komunitas MEA dan kerjasama RCEP. Adapun ketujuh komoditas tersebut adalah Jagung, Kedelai, Cabai, Bawang Merah, Kopi, Kakao, dan Sapi. Lokasi penelitian dipilih secara purposif dan terjustifikasi di Provinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

0
0
0
s2smodern
powered by social2s