Sosialisasi Pedoman Klirens Etika Penelitian dan Publikasi IlmiahLembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pembina Peneliti di Indonesia telah menetapkan Kode Etika Peneliti dalam melakukan kegiatan Penelitian dan Publikasi Ilmiah, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kepala (Perka) LIPI Nomor 06/E/2013. Untuk itu, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian telah menyelenggarakan sosialisasi Perka tersebut pada hari Selasa, 7 Juni 2016 dengan mengundang Prof. Dr. Tjeppy D. Soedjana, Anggota Majelis Pertimbangan Etika Peneliti (MPEP-LIPI), sebagai narasumber.  Kegiatan ini dihadiri oleh para peneliti PSEKP.

Disampaikan oleh narasumber bahwa salah satu tujuan kegiatan sosialisasi ini adalah untuk membantu peneliti untuk melakukan self assessment terhadap kepatuhan pada Kode Etika Peneliti dalam melakukan penelitian dan publikasi ilmiah.  Kegiatan sosialisasi juga bertujuan untuk membantu peneliti dalam menjaga pemahaman Kode Etika Peneliti untuk menghindari kesalahan dan penyalahgunaan (preventive measure) sebelum ditemukan persoalan etika dalam penelitian dan publikasi ilmiah (pelanggaran kode etika), selain juga untuk mengawal peneliti dalam menjaga moralitas untuk selalu memegang teguh nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, dan keadilan dalam melaksanakan dan melaporkan penelitian/pengkajian.

Diharapkan semua peneliti memperhatikan dengan seksama sejak awal peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam melaksanakan kegiatan penelitian sampai terbitnya karya tulis dalam media publikasi ilmiah. Juga diharapkan adanya harmonisasi norma-norma dan etika penelitian  yang berlaku secara nasional yang belaku sekarang di Batan, LIPI, BPPT, dan K/L dengan menerapkan prosedur kode etik yang sama sebagai acuan PP No.42 Tahun 2004 tentang pembinaan Korps PNS, Permentan 25 Tahun 2007 tentang Indikator Budaya Kerja dan Peraturan Kepala LIPI No.8/E/2013 tentang Pedoman Klirens Etik Penelitian dan Publikasi Ilmiah.

Para peneliti nampak sangat antusias dengan topik yang dipaparkan narasumber. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh para peneliti terkait dengan kegiatan penelitian dan publikasi karya tulis ilmiah yang selama ini dilakukan. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan antara lain menyangkut  elemen-elemen yang harus dilakukan dalam tingkat birokrasi penelitian dan kode etiknya; author untuk penulisan hasil penelitian yang dilakukan dalam satu Tim Penelitian; metode pencantuman publikasi ilmiah; penelusuran dengan software untuk mengetahui pelanggaran kode etik dalam publikasi ilmiah; dibuatnya mekanisme yang baku dari manajemen penelitian dalam hal pengawasan penelitian dan lebih mengutamakan mediasi dalam menghentikan cara-cara yang kurang baik/plagiat dalam penerbitan makalah penelitian ilmiah dan tetap menjaga integritas penelitian.

Beberapa peneliti mengemukanan berbagai kasus yang patut diduga melanggar kode etika, namun tidak tahu harus bagaimana penyelesaiannya.  Dengan demikian, Komisi Etika di Badan Litbang Penelitian atau setidaknya di level Unit Kerja (PSEKP) mendesak untuk segera dibentuk.

tjeppy Disampaikan oleh Prof. Tjeppy bahwa bahwa salah satu cara penyelesaian terkait tulisan yang patut diduga bermasalah adalah mediasi antara penulis yang patut diduga melanggar kode etika dan penggugat sehingga permasalahannya dapat diselesaikan tanpa harus sampai ke Komisi Etika Peneliti LIPI atau Majelis Pertimbangan Etika Peneliti Nasional. Ditegaskan bahwa Redaksi perlu berhati-hati dalam menerbitkan suatu karya tulis ilmiah karena jika tulisan yang bermasalah diterbitkan dalam jurnal, maka akan berisiko kehilangan status akreditasi bagi jurnalnya. Dalam hal ini Redaksi sebaiknya menolak tulisan yang patut diduga bermasalah.  Demikian disampaikan oleh Prof. Tjeppy pada saat mengakhiri diskusi (EAS).

0
0
0
s2smodern
powered by social2s