Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
  • Rapat Koordinasi Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai Nasional serta Sosialisasi Inovasi Teknologi Pertanian

    Rapat Koordinasi Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai Nasional serta Sosialisasi Inovasi Teknologi Pertanian

    Senin, 06 Oktober 2014 03:37
  • Kunker Sukses Menteri Pertanian ke Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi

    Kunker Sukses Menteri Pertanian ke Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi

    Kamis, 02 Oktober 2014 00:33
  • Competitiveness of Selected Food Corps of Indonesia: A Policy Analysis Matrix Approach

    Competitiveness of Selected Food Corps of Indonesia: A Policy Analysis Matrix Approach

    Kamis, 02 Oktober 2014 00:22
  • Open House Pekan Bhakti Agro Inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian “Dukungan Inovasi Teknologi Dalam Mewujudkan Pertanian  Berkelanjutan di Bangka Belitung”

    Open House Pekan Bhakti Agro Inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian “Dukungan Inovasi Teknologi Dalam Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan di Bangka Belitung”

    Rabu, 24 September 2014 05:21
  • Coffe Morning

    Coffe Morning "Penanganan PPN 10% terhadap Komoditas Hasil Pertanian"

    Rabu, 24 September 2014 05:18
  • Lepas Sambut Pejabat Eselon III PSEKP

    Lepas Sambut Pejabat Eselon III PSEKP

    Rabu, 24 September 2014 05:16
  • Pekan Bakti Agro Inovasi BPTP Jambi “Agro Inovasi Kreatifitas Tiada Henti untuk Kesejahteraan Petani”

    Pekan Bakti Agro Inovasi BPTP Jambi “Agro Inovasi Kreatifitas Tiada Henti untuk Kesejahteraan Petani”

    Senin, 15 September 2014 07:51
  • Konferensi EcoHealth 2014

    Konferensi EcoHealth 2014

    Sabtu, 23 Agustus 2014 01:18
  • 2014 International Year of Family Farming: Mewujudkan Keluarga Petani Indonesia yang Bermartabat

    2014 International Year of Family Farming: Mewujudkan Keluarga Petani Indonesia yang Bermartabat

    Rabu, 20 Agustus 2014 07:05
  • Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV Badan Litbang Pertanian

    Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV Badan Litbang Pertanian

    Jum'at, 08 Agustus 2014 07:09

Analisis Efisiensi Usahatani Padi di Beberapa Sentra Produksi Padi di Indonesia

Seminar Rutin Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) menyelenggarakan kegiatan Seminar Rutin Pembangunan Pertanian dan Perdesaan dengan Topik "Analisis Efisiensi Usahatani Padi di Beberapa Sentra Produksi Padi di Indonesia" pada hari Rabu, 25 Mei 2011 bertempat di Lt. IV Gedung PSEKP. Bertindak sebagai pembicara adalah Ibu Netty Tinaprilla (Dosen IPB) dan moderator Dr. Erizal Jamal. Peserta yang hadir merupakan satuan kerja Badan Litbang Kementerian Pertanian, satuan kerja Kementerian Pertanian, Riset Perkebunan Negara, Bappenas, UNESCAP-CAPSA, IPB, Universitas Juanda, Mahasiswa Pasca Sarjana IPB dan Seluruh Peneliti PSEKP Bogor. Beberapa point penting yang dipaparkan dalam makalah tersebut adalah :
  • Secara politis pemerintah menempatkan beras sebagai komoditas strategis dalam pembangunan ekonomi dan swasembada beras menjadi target pembangunan. Untuk itu sejak tahun 60an hingga sekarang telah banyak program-program nasional yang berkaitan dengan upaya peningkatan produksi beras (padi), seperti Bimas dan Inmas (Bimbingan/intensifikasi Masyarakat Tani), INSUS, SUPRA INSUS, Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Tabela (Tanam Benih Langsung). SUTPA (Sistim Usaha Terpadu), IP 300, pengembangan padi hibrida, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), IP-400 dan lain-lain. Menempatkan beras sebagai makanan pokok menyebabkan perhatian pemeritah cenderung "bias" kepada padi dan kurang memperhatikan pengembangan komoditas pertanian lainnya.
  • Perkembangan produktivitas padi sawah per hektar yang melambat menunjukkan bahwa produktivitas marjinal lahan sawah hampir maksimum mendekati leveling off. Peningkatan produksi melalui ekstensifikasi atau perluasan lahan sawah semakin tidak efisien. Keterbatasan anggaran pemerintah untuk pembukaan lahan irigasi dan tingginya kompetisi penggunaan lahan untuk kegiatan non-pertanian, peningkatan produksi padi melalui perluasan lahan sawah akan semakin mahal. Alternatif yang perlu dipikirkan adalah meningkatkan produktivitas lahan melalui intensifikasi atau perbaikan teknologi.
  • Menempatkan beras beras sebagai makanan pokok juga berimplikasi pada sisi permintaan. Beras sebagai makanan pokok menuntut pemerintah menerapkan kebijakan harga beras murah. Harga beras nasional dikendalikan untuk melindungi konsumen beras, khususnya masyarakat berpendapatan rendah. Kebijakan harga beras murah memang menguntungkan konsumen, namun merugikan bagi petani produsen padi. Pada gilirannya, harga beras murah akan menekan bahkan menghilangkan insentif ekonomi bagi petani produsen padi dan tidak menutup kemungkinan bagi petani untuk beralih ke non-padi.
  • Di sisi lain, konsumsi beras secara nasional sampai saat ini masih cukup tinggi, bahkan cenderung meningkat. Catatan terakhir menunjukkan konsumsi beras nasional sebesar 139 kg per kapita per tahun. Sebagai pembanding, konsumsi beras Malaysia sekitar 80 kg per kapita per tahun. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat (1.35 persen per tahun), kebutuhan beras nasional akan terus meningkat pula. Tekanan permintaan beras akan terus meningkat jika tidak dilakukan upaya menurunkan konsumsi per kapita. Penurunan konsumsi beras per kapita hanya mungkin dilakukan dengan cara diversifikasi konsumsi pangan. Menjadi persoalan adalah bahwa diversifikasi konsumsi pangan akan berbenturan dengan budaya masyarakat yang sudah lama menempatkan beras sebagai makanan pokok.
  • Berdasarkan uraian di atas, efisiensi produksi menjadi penting untuk diperhatikan. Upaya-upaya peningkatan produksi beras nasional melalui jalur ekstensifikasi tampaknya semakin sulit karena terbatasnya penyediaan lahan pertanian produktif dan konversi lahan dari pertanian ke non pertanian sulit dibendung karena berbagai alasan. Upaya peningkatan produksi beras melalui efisiensi produksi menjadi pilihan yang tepat. Persoalan yang perlu dikaji adalah apakah masih ada peluang untuk meningkatkan produksi beras nasional dengan upaya meningkatkan efisiensi produksi? Lebih jauh, perlu juga dipelajari faktor-faktor apa yang mempengaruhi efisiensi produksi tersebut? Penelitian ini menjelaskan secara singkat tingkat efisiensi teknis produksi padi di beberapa provinsi yang menjadi sentra produksi padi nasional, dan mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi produksi padi tersebut.
  • Penelitian PATANAS ini dilaksanakan di lima provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi ini berdasarkan pertimbangan bahwa kelima provinsi ini merupakan sentra produksi padi di Indonesia. Produksi padi nasional didukung oleh produksi sentra-sentra padi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Kelima provinsi ini menyumbang peranan yang besar dalam perberasan nasional. Produktivitas padi di kelima provinsi ini hampir menyamai produktivitas nasional. Produktivitas padi sawah per hektar secara nasional adalah 57,6 kuintal. Satu-satunya provinsi lokasi penelitian yang memiliki rata-rata produktivitas padi per hektar lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi per hektar secara nasional adalah Jawa Barat yang mencapai 63,8 kuintal.
  • Produksi padi ditentukan oleh penggunaan input-inputnya baik lahan, bibit, pupuk, dan tenaga kerja. Analisis fungsi produksi menggambarkan hubungan produksi dengan input-inputnya dimana dalam penelitian ini menggunakan fungsi produksi model stochastic frontier Cobb-Douglas. Analisis fungsi produksi dilakukan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi di lokasi penelitian. Pada fungsi produksi awal diduga dengan delapan variabel yaitu lahan, bibit, pupuk, obat, input lain, tenaga kerja, persil garapan milik, dan luas garapan milik. Analisis OLS dilakukan terlebih dahulu untuk menguji apakah terdapat pelanggaran asumsi atau tidak (multikolinearity, autokorelasi, dan heteroskeasticity). Selain itu dengan OLS terlebih dahulu, ditemukan beberapa variabel yang memiliki nilai koefisien yang negatif. Keberadaan nilai yang negatif ini sebaiknya dihindari. Agar relevan dengan analisis ekonomi maka nilai koefisien fungsi produksi haruslah positif.
  • Parameter dugaan pada fungsi produksi stochastic frontier menunjukkan nilai elastisitas produksi frontier dari input-input yang digunakan. Koefisien dalam fungsi produksi yang merupakan pangkat fungsi Cobb-Douglas merupakan elastisitas produksi masing-masing input yang digunakan. Jumlah koefisien fungsi ini merupakan kondisi return to scale dan hasilnya adalah 1.045. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi produksi Cobb-Douglas dengan metode MLE ini berada dalam kondisi Constant Return To Scale (sesuai dengan asumsi fungsi produksi, Cobb-Douglas). Sama halnya dengan total koefisien fungsi produksi dengan metode OLS, menghasilkan angka 1.034 yang berarti Constant Return To Scale.
  • Hasil pendugaan menunjukkan bahwa elastisitas produksi frontier dari variabel lahan ditemukan berpengaruh nyata terhadap produksi padi pada taraf ∝ =10%, dengan nilai sebesar 0,9227. Angka ini menunjukkan bahwa penambahan sebesar 1% lahan (dimana input lainnya tetap), masih dapat meningkatkan produksi padi dengan tambahan produksi sebesar 0.9227%. Variabel lahan paling responsif dibandingkan dengan variabel lain karena memiliki koefisien yang paling besar. Implikasinya adalah jika pemerintah hendak meningkatkan produksi, maka variabel lahan lah yang seharusnys menjadi perhatian utama. Input lain selain lahan tidak elastis yang artinya peningkatan input masing-masing hanya mampu meningkatkan produksi dalam jumlah yang kecil.
  • Sementara elastisitas produksi frontier dari variabel bibit, pupuk N, pupuk P, dan tenaga kerja ditemukan berpengaruh nyata terhadap produksi padi dengan nilai elastisitas produksi masing-masing sebesar 0.0350 untuk bibit, 0.0153 untuk pupuk N, 0.0045 untuk pupuk P, dan 0.0678 untuk tenaga kerja. Angka-angka ini menunjukkan bahwa penambahan jumlah bibit, pupuk N, pupuk P, dan tenaga kerja masing-masing sebesar 1% (dengan asumsi input lain tetap), masih dapat meningkatkan produksi padi dengan penambahan produksi sebesar 0.0350%, 0.0153%, 0.0045%, dan 0.0678%. Untuk variabel pupuk K, ditemukan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi.
  • Variabel umur berpengaruh nyata dalam inefisiensi. Dengan koefisien yang bertanda positif (0.018) menyatakan bahwa semakin tua umur petani KK, maka inefisiensi akan semakin meningkat. Hal ini membuktikan bahwa petani yang berumur lebih muda (≤ 60 tahun), akan menghasilkan usahatani yang lebih efisien. Kondisi di lapangan membuktikan bahwa petani berada pada usia tua dan hal ini menjadi masalah dalam efisiensi. Implikasinya adalah ke depan perlu adanya regenerasi dari orang tua petani kepada anak atau keluarganya yang lebih muda.
  • Dari enam variabel yang diduga relevan, seluruhnya memiliki koefisien yang positif sesuai dengan asumsi fungsi produksi Cobb-Douglas (kecuali pupuk K yang mendekati nol). Variabel-variabel yang nyata berpengaruh terhadap produksi batas (frontier) petani responden adalah : lahan, bibit, pupuk N, pupuk P, dan tenaga kerja. Kelima variabel ini berpengaruh nyata pada taraf nyata ∝ =10%. Variabel yang paling responsif yaitu lahan. Artinya masih ada peluang untuk meningkatkan produksi beras nasional dengan upaya peningkatan lahan.
  • Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi di lima provinsi sentra di Indonesia telah efisien dengan rata-rata efisiensi 91.86 persen. Seluruh variabel yang diduga mempengaruhi inefisiensi berpengaruh nyata terhadap inefisiensi yaitu umur KK, pendidikan KK, dummy musim, dummy kelompok tani, dummy status kepemilikan lahan, kepemilikan persil, dan dummy lokasi Jawa dan luar Jawa.
  • Efisiensi masih dapat ditingkatkan untuk mencapai frontier tetapi dalam peningkatan yang tidak begitu berarti (kurang dari 10%). Peningkatan efisiensi akan memberikan hasil lebih baik jika diarahkan ke luar Jawa melalui perbaikan fasilitas dan sarana irigasi, pemberian kesempatan dan fasilitas kepada petani untuk pemilikan lahan lahan serta peningkatan program-program usahatani melalui terobosan teknologi baru.
  • Lahan menjadi faktor penting dan paling responsif dalam upaya peningkatan produksi. Kementerian Pertanian perlu melakukan upaya peningkatan akses rumahtangga petani terhadap pengusahaan lahan. Langkah kongkret yang dapat dilakukan adalah melalui pembaruan agraria. Selain itu, perlu kebijakan pemerintah untuk mengelola tanah absentee dan pemberian kesempatan serta fasilitas kepada petani untuk pembelian lahan. Sedangkan untuk ke depannya diperlukan pula adanya regenerasi petani padi kepada petani muda yang berpendidikan formal lebih tinggi.

Informasi tambahan