Urgensi Peningkatan Produksi untuk Mengamankan Pasokan Pangan Nasional pada Masa Wabah Covid-19Kita belum mengetahui kapan pandemih Covid-19 di Indonesia akan berakhir. Ada pakar yang memerkirakan akhir bulan Juli akan berakhir jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berjalan efektif. Namun, sebagian lainnya memerkirakan bulan September, bahkan ada pula yang menyatakan akhir tahun ini. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang akhir pandemi Covid-19 ini, ketersediaan pangan nasional adalah aspek kegiatan prioritas yang harus diperhatikan semua pemangku kepentingan.

Kecukupan pasokan pangan bukan saja vital, tetapi juga merupakan modal utama suatu negara termasuk negeri ini dalam mengatasi dampak pandemih Covid-19. Krisis pangan di tengah pandemi maupun masa pemulihan pasca-Covid-19 dapat memicu krisis sosial yang dampak negatifnya sangat besar. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk menghindari krisis pangan merupakan agenda kebijakan yang harus menjadi prioritas utama.

Upaya untuk membatasi penyebaran Covid-19 melalui PSBB juga berimplikasi pada nasib petani. Terganggunya kelancaran sistem distribusi dan turunnya permintaan dari industri kuliner dan industri pengolahan selama pelaksanaan PSBB menyebabkan turunnya harga sejumlah komoditas pertanian secara nyata. Di beberapa lokasi sentra produksi, harga daging dan telur ayam di tingkat peternak turun lebih dari 10%. Meskipun angkanya tidak sebesar yang dirasakan para peternak, penurunan harga juga terjadi pada komoditas pangan lainnya terutama produk hortikultura.

Sampai saat ini dampak nyata dari pandemi Covid-19 pada pertanian bukan terletak pada tenaga kerja yang tersedia untuk berusaha tani tetapi merosotnya pendapatan yang tentunya berimplikasi pula pada turunnya kemampuan permodalan petani. Merosotnya pendapatan diakibatkan setidaknya oleh dua hal berikut. Pertama, akibat dari kenaikan harga input dan turunnya harga hasil panen mereka. Kedua, turunnya pendapatan yang diperoleh dari kegiatan nonpertanian. Menurut SUTAS 2018 (BPS 2018) sumber pendapatan utama untuk sekitar 33%  rumah tangga usaha pertanian (RTUP) berasal dari nonpertanian. Beberapa hasil penelitian PSEKP (misalnya dari analisis data PATANAS) juga diperoleh kesimpulan bahwa kontribusi pendapatan dari kerja atau usaha nonpertanian pada rumah tangga petani sangat signifikan. Dengan demikian, PSBB juga menyebabkan aktivitas ekonomi nonpertanian di perdesaan mengalami kelesuan meskipun tidak sedahsyat yang terjadi di perkotaan. Akibat Covid-19, rumah tangga petani yang memperoleh pendapatan dari bekerja sebagai migran musiman di perkotaan maupun pendapatan kiriman dari anggota keluarganya yang bekerja di kota (remittance) bukan hanya merosot, tetapi untuk sementara ini tidak ada lagi.

Pernyataan resmi Kementerian Pertanian adalah bahwa sampai dengan bulan Juni 2020 pasokan pangan aman. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan bulan-bulan berikutnya? Diperkirakan pada periode Juli – Agustus masa panen Musim Tanam (MT) II pada sebagian besar sentra produksi pangan nasional telah melewati masa puncak panennya. Dengan asumsi pengaruh Covid-19 terhadap produksi MT II tidak menyebabkan produksi pangan turun drastis, maka persediaan pangan bulan Juli – September mungkin masih relatif aman. Dalam arti kalaupun harus impor, kemungkinan tidak dalam jumlah yang lebih besar dari rata-rata impor dalam lima tahun terakhir; terkecuali untuk beberapa jenis komoditas pangan yang saat ini sudah harus diimpor, seperti bawang putih, gula pasir, dan terigu. Bagaimana untuk periode bulan Oktober 2020 – Januari 2021? Secara historis bulan November – Januari adalah musim paceklik karena sumber utama persediaan pangan dari produksi dalam negeri pada periode tersebut berasal dari hasil panen MT II dan sisa stok dari hasil panen MT I. Dalam kondisi normal pun produksi pangan pada periode tersebut biasanya hanya sekitar 40% dari produksi pangan MT II, sedangkan produksi MT II hanya sekitar 70% jika dibandingkan dengan MT I.  Konsekuensinya, produksi pangan pada MT III (Musim Kemarau II) tahun ini harus lebih tinggi daripada MT III tahun lalu.

Urgensi Peningkatan Produksi untuk Mengamankan Pasokan Pangan Nasional pada Masa Wabah Covid-19Seperti tahun-tahun sebelumnya, kendala terbesar peningkatan produksi pangan MT III terletak pada terbatasnya air. BMKG memperkirakan bahwa secara umum musim kemarau 2020 relatif lebih basah daripada 2019 akan tetapi ada sekitar 30% wilayah yang menurut zona musim (ZOM) akan lebih kering dari kondisi normalnya. Puncak musim kemarau di sebagian besar daerah zona musim diprediksi akan terjadi di bulan Agustus. Awal musim kemarau juga bervariasi antarwilayah. Sekitar 19,3% daerah ZOM diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal, 37,4% ZOM sama seperti biasanya, dan 43,3% ZOM lebih lambat dari biasanya. Selain air, kendala pada peringkat berikutnya adalah modal. Terkurasnya tabungan dan berkurangnya pendapatan petani dari kegiatan nonpertanian mengakibatkan persediaan modal untuk berusaha tani menjadi sangat terbatas. Untuk ketersediaan tenaga kerja diperkirakan cukup. Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi kendala tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pada areal pesawahan yang pasokan airnya memungkinkan untuk menanam padi maka diperlukan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air. Itu dapat dilakukan dengan menerapkan teknik irigasi berjeda (intermittent) dan penggunaan air irigasi macak-macak. Untuk mengantisipasi risiko kekeringan, sepanjang memungkinkan, pemanfaatan irigasi pompa perlu disiapkan sejak awal dan pemeliharaan saluran irigasi harus lebih diintensifkan. Selain untuk meningkatkan efisiensi penyaluran air, hal ini juga sangat diperlukan bagi peningkatan kinerja irigasi untuk usaha tani padi MT I tahun depan.
  2. Perluasan areal tanam padi pada sawah rawa lebak. Agar produktivitasnya lebih tinggi, varietas yang dianjurkan adalah Inpara (Inbrida padi rawa).
  3. Peningkatan diversifikasi usaha tani. Peningkatan produksi pangan nonpadi seperti jagung, kedelai, kacang hijau, dan sayur-sayuran harus dilakukan. Untuk memperoleh hasil produksi yang lebih tinggi, sistem pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman harus diperbaiki.
  4. Intensifikasi pemanfaatan lahan pekarangan. Untuk kebutuhan sendiri, penanaman beberapa jenis sayuran seperti cabai, bawang daun, terong, dan sebagainya  akan sangat membantu meringankan beban pengeluaran rumah tangga. Hal ini juga dapat dilakukan  di kota dan di pinggiran perkotaan dengan pot atau bagi yang mampu dapat memanfaatkan teknik hidroponik.

Di samping itu, diperlukan dukungan kebijakan yang sasarannya terkait dengan beberapa hal berikut. Pertama, penambahan permodalan petani dengan meningkatkan akses terhadap kredit murah dan atau bantuan permodalan. Kedua, peningkatan ketersediaan benih padi unggul yang relatif toleran kekeringan. Ketiga, ketersediaan pupuk. Keempat, peningkatan ketersediaan pompa-pompa irigasi berbagai ukuran sehingga sesuai dengan kondisi di lapang. Kelima, program padat karya pada kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi.

Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa kemungkinan besar proses pemulihan ekonomi membutuhkan waktu yang cukup lama, setidaknya satu tahun. Dengan kata lain, sampai dengan akhir MT I 2021 kondisi perekonomian belum mencapai level yang sama dengan kondisi sebelum Covid-19. Konsekuensinya, rancang bangun dan instrumen kebijakan yang diorientasikan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani pada MT I tahun depan harus mulai dipikirkan sejak dini. Rancang bangun dan instrumen kebijakan tersebut sangat mungkin berbeda dengan yang selama ini dilakukan,  karena dengan adanya Covid-19 saat ini situasi dan kondisi yang pada awal MT I tahun depan sangat berbeda dengan waktu yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

0
0
0
s2smodern
powered by social2s