Hikmah Positif Dibalik Bencana Pandemi Covid-19
sumber: www.alinea.id

Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia
pandemi Covid-19 telah melumpuhkan hampir semua sektor ekonomi global, termasuk di Indonesia. Penyebaran penyakit ini sangat cepat meluas hingga seluruh daerah dan telah memakan banyak korban jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) menyatakan bahwa status keadaan darurat pandemi Covid-19 di Indonesia diprediksi 91 hari (29 Februari - 29 Mei 2020, SK Kepala BNPB No. 13.A/2020 tentang Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana pandemi Penyakit Akibat Virus Corona). Namun, hingga kini tidak ada informasi yang pasti tentang kapan pandemi ini akan berakhir.

Untuk mencegah makin meluasnya pandemi penyakit ini, pemerintah mengeluarkan berbagai peraturan, baik tentang karantina, larangan berkumpul, maupun penerapan physical distancing yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres), Peraturan Pemerintah (PP), maupun Keputusan Presiden (Keppres). Beberapa peraturan yang dikeluarkan oleh Presiden antara lain adalah: (1) Keppres Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19

tanggal 13 Maret 2020, (2) Keppres Nomor 9 tahun 2020 yang merupakan revisi beberapa pasal dalam Keppres Nomor 7 tahun 2020, dan (3) Perpres Nomor 52 tahun 2020 tentang Pembangunan Fasilitas Observasi dan Penampungan dalam Penanggulangan Covid-19 di Pulau Galang, Provinsi Kepulauan Riau. Puncaknya adalah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mendapat dukungan kuat dari Presiden RI. Dengan berlakunya PSBB, hampir semua kegiatan ekonomi terhenti, kecuali produksi dan distribusi bahan makanan, obat-obatan dan alat pelindung diri (APD). Dengan demikian, hanya toko atau warung makanan dan bahan pangan, serta toko APD dan obat (apotek) yang boleh tetap beroperasi.

Sektor ekonomi formal yang paling jelas terdampak dari meluasnya pandemi ini, antara lain adalah sektor transportasi, pariwisata, termasuk perhotelan dan restoran, kemudian industri manufaktur yang mempekerjakan banyak tenaga manusia, serta industri dan jasa lainnya. Demikian juga sektor ekonomi nonformal yang banyak dilakukan oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan perorangan. Dampak negatif juga dialami oleh pegawai atau pekerja harian. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan, baik karena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun yang kehilangan usaha kecilnya, seperti warung makanan, tukang bakso, tukang sayur, dan lain-lain.  Lumpuhnya hampir semua sektor ekonomi serta dampak negatif yang ditimbulkan, termasuk banyaknya korban jiwa serta banyaknya orang yang kehilangan penghasilan, telah banyak diungkapkan di berbagai media masa, baik media cetak, media elektronik/layar kaca, maupun media sosial melalui perangkat telekomunikasi dan jaringan internet.

Artikel ini tidak membahas tentang dampak negatif dari pandemi Covid-19, melainkan sebaliknya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan empati kepada pihak yang terdampak negatif, tulisan ini mengungkapkan berbagai hikmah positif yang muncul di balik bencana pandemi yang melanda Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, bahwa di samping penderitaan yang dialami oleh sebagian anggota masyarakat akibat pandemi Covid-19, ternyata banyak juga aspek positif yang muncul, seperti (1) aspek pengendalian diri, (2) kepedulian sosial, (3) kreatifitas masyarakat, (4) peluang ekonomi untuk memperoleh pendapatan, dan (5) kontribusi instansi yang berhubungan langsung dengan bahan pokok (Kementerian Pertanian).


Pengendalian Diri
Setiap insan di negeri ini mau tidak mau, suka atau tidak suka harus sadar dan mau mengubah pola hidup sesuai dengan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, terutama dalam rangka mengamankan diri dari paparan Covid-19 dan mencegah penularan dari dan ke orang lain. Tiap warga negara harus mau menahan diri tinggal di rumah, selama pandemi Covid-19 belum mereda.

Hikmah Positif Dibalik Bencana Pandemi Covid-19
sumber: covid19.go.id

Beribadah yang biasa dilakukan secara berjamaah (bersama-sama) di masjid, gereja, wihara, klenteng, atau di pura, harus dengan penuh kesadaran dilakukan di rumah bersama keluarga. Tantangan yang cukup berat lagi bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, karena umat Islam harus dengan kesadaran menahan diri untuk tidak melakukan sholat tarawih atau sholat Jumat berjamaah di measjid. Bahkan sholat Idul Fitri berjamaah pun terancam ditiadakan. Demikian juga upacara Tawur Kesanga dalam rangka Hari Raya Nyepi yang biasa dilakukan berjamaah dengan ratusan umat di Pura, dengan penuh kesadaran hanya dilakukan oleh 2-3 pemuka agama. Umat Hindu lainnya di seluruh Indonesia beribadah di rumah masing-masing. Perayaan Minggu Paskah, yang biasa dilakukan di gereja, dengan penuh kesadaran juga dilakukan di rumah masing-masing. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, pemerintah juga melarang warga negara Indonesia melakukan bepergian mudik. Dengan penuh kesadaran masyarakat menahan diri untuk tidak mudik, meskipun sangat rindu dengan kampung halaman dan sanak keluarga di kampung asal. Demikian juga tradisi Buka Puasa Bersama, dan Halal Bi Halal harus ditiadakan.

Tokoh agama sebagai panutan memegang peran penting dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah untuk memutus penyebaran Covid-19. Jika ada tokoh masyarakat yang tidak sejalan dengan aturan protokol kesehatan yang diprogramkan pemerintah, penyebaran virus ini diduga akan semakin meluas.
 
Pengendalian diri juga harus dilakukan dalam berbagai bidang usaha. Banyak usaha seperti yang dilakukan di pasar, toko, mall, dan perusahaan/pabrik yang memproduksi barang dan jasa, termasuk jasa transportasi berhenti beroperasi. Menghentikan kegiatan perusahaan yang melibatkan banyak tenaga kerja bukan sesuatu yang mudah. Namun, demi mematuhi protokol kesehatan yang diwajibkan oleh pemerintah, hampir semua perusahaan berhenti beroperasi. Hanya industri di bidang makanan, minuman, obat dan alat kesehatan yang diizinkan beroperasi.

Beberapa contoh pengendalian diri di atas hanyalah sebagian kecil dari sikap menahan diri yang dilakukan masyarakat, dengan segala konsekuensinya. Semua memerlukan niat dan tekad untuk menahan diri. Jika keberhasilan dalam pengendalian diri ini menjadi terbiasa dalam kehidupan, maka hidup ini akan menjadi lebih tenang dengan tidak banyak keinginan dan mampu mengurungkan kegiatan yang kurang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.


Hikmah Positif Dibalik Bencana Pandemi Covid-19
sumber: indonews.id

Kepedulian Sosial Masyarakat
Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, berbagai bentuk kepedulian sosial muncul di masyarakat.   Lily Wahid (mantan anggota DPR) menyatakan bahwa kepedulian sosial masyarakat pada saat pandemi Covid-19 dan memasuki bulan Ramadhan muncul di banyak tempat. Menurutnya, dalam kondisi seperti saat inilah bangsa Indonesia harus bersatu, bergandengan tangan, tanpa memandang golongan, suku, agama, profesi, dan lainnya, saling mendukung dalam perang melawan pandemi Covid-19. Kalau kepedulian sosial dalam persatuan ini tumbuh baik, Indonesia akan mampu melewati cobaan pandemi ini dengan selamat.

Achmad Mubarok (Guru Besar UIN Syarif Hidayatulah Jakarta) mengungkapkan bahwa ibadah puasa di tengah pandemi Covid-19 makin meningkatkan kepedulian sosial sesama umat manusia, apapun latar belakangnya, di samping melatih pengendalian hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri. Hal ini terlihat dari makin banyaknya aksi kepedulian secara spontanitas dalam bentuk pemberian makanan bagi orang-orang miskin yang terdampak Covid-19, baik di pinggir jalan maupun di rumah-rumah pekerja harian yang kehilangan penghasilan. Aksi ini dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi formal, kelompok informal, profesi tertentu, maupun pribadi-pribadi yang jumlahnya sangat besar. Aksi nyata kepedulian sosial secara swadaya masyarakat ini akan membuat daya tahan masyarakat golongan bawah makin kuat, minimal untuk sementara, dalam situasi pandemi Covid-19. Menurut Achmad Mubarok, aksi kepedulian merupakan amalan luar biasa yang muncul di tengah keprihatinan bangsa. Jika masyarakat hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah semata, tentu akan kewalahan, karena begitu besar jumlah rakyat dan luasnya jangkauan wilayah yang harus dilayani distribusi bantuannya. Hal ini sesungguhnya merupakan ciri khas gotong royong masyarakat Indonesia yang telah tertanam lama dan sangat kuat untuk membantu sesama manusia.

Kepedulian sosial terhadap sesama muncul dari organisasi masyarakat, seperti Yayasan Graisena di Jakarta. Target kepedulian mereka adalah masyarakat ekonomi bawah yang kehilangan penghasilan dan yang banyak di antaranya yang terjangkit Covid-19, seperti pekerja harian lepas. Jika mereka diisolasi di rumah sakit karena berstatus PDP, maka mereka tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga. Skema bantuan yang diberikan oleh yayasan ini selama 14 hari adalah bantuan tunai Rp 20 ribu per anggota keluarga per hari. Jika keluarga  pasien terdiri dari 4 orang, maka bantuan yang diberikan Rp 80 ribu per keluarga per hari. Jika isolasi lebih dari 14 hari, bantuan masih dilanjutkan hingga isolasi selesai.

Bentuk kepedulian dan solidaritas juga ditunjukkan oleh klub sepak bola Arema FC. Klub ini menggelar bakti sosial dengan membagikan 500 bungkus makanan tiap hari untuk masyarakat terdampak Covid-19 selama periode 18-21 April 2020. Kepedulian sosial lainnya ditunjukkan oleh organisasi masa Barisan Muda Kapasa Raya (BMKR) Makassar yang menggalang dana (donasi) dan pengumpulan paket sembako untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19.  Sebelumnya BMKR juga membagikan masker gratis kepada masyarakat di kelurahan Kapasa Raya, Makassar. Ketiga contoh organisasi ini adalah sedikit atau sebagian kecil contoh dari banyak organisasi sosial di masyarakat yang menunjukkan sikap peduli pada sesama yang mengalami kesulitan ekonomi, sesuatu yang sangat dibutuhkan demi ketahanan dan kelangsungan hidup berbangsa.

Kepedulian sosial yang cukup menyentuh rasa kemanusiaan dan perlu mendapat apresiasi adalah aksi menyediakan makanan bagi tetangga berstatus orang dalam pemantauan (ODP) di Kota Cimahi Jawa Barat. Warga perumahan Cipageran Asri di Cimahi dengan penuh keikhlasan menyediakan makan pagi, siang dan malam bagi empat orang warganya yang sedang melakukan isolasi mandiri. Warga melalui ibu-ibu PKK berpatungan untuk belanja kebutuhan bahan makanan bagi keempat warganya yang tidak bisa bekerja, karena harus mengisolasi diri. Dengan tetap melakukan physical distancing sesuai protokol kesehatan, ibu-ibu PKK menyediakan makanan dengan menempatkannya di depan pagar dan memberitahu penghuni rumah bahwa makanan sudah ada di depan pagar. Suatu tindakan mulia yang perlu diteladani.  
 
Kepedulian sosial dari perorangan muncul di kalangan aktor dan aktris ibu kota, yang bersama Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) terketuk hatinya untuk menggalang dana guna membeli alat pelindung diri (APD) untuk disumbangkan ke rumah sakit yang membutuhkan. Mereka juga turun langsung membagikan makanan gratis kepada pengemudi ojek online dan pekerja harian yang terdampak langsung Covid-19. Untuk pengadaan APD, bersama ACT direkrut mitra kerja pengrajin rumah tangga dan pedagang kecil untuk membuat dan menyiapkan APD, serta warung tegal (warteg) dalam menyiapkan makanan untuk dibagikan secara gratis kepada pekerja harian yang kehilangan penghasilan.

Aktris lainnya, juga menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat kecil yang terdampak Covid-19. Ia menyumbangkan Rp 100 juta uang pribadinya untuk membeli APD yang kemudian disumbangkan untuk tenaga medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Tidak hanya itu, aktris ini juga merencanakan membagikan sembako yang berisi 10 macam bahan makanan dan vitamin C kepada masyarakat kecil yang terdampak pandemi ini. Diyakini bahwa kepedulian aktor dan aktris ibu kota di atas hanyalah sebagian kecil dari individu yang menaruh kepedulian sosial terhadap saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air yang terdampak Covid-19.  

Bentuk kepedulian yang sangat mengharukan adalah yang datang dari anak-anak di bawah umur. Mereka merelakan uang jajannya yang sudah ditabung selama beberapa bulan bahkan lebih dari setahun, untuk disumbangkan guna membantu kesulitan masyarakat, suatu tindakan terpuji yang luar biasa dan patut diteladani. Mochammad Hafidh Al-Bukhori (9) dari Kabupaten Bandung dan Azrilia Alya Nabila (7) asal Kabupaten Bandung Barat, adalah contoh dua bocah yang menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap masalah krisis akibat Covid-19.  Keberanian, ketulusan, dan aksi solidaritas spontan dari kedua bocah itu disambut baik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Menurut gubernur, meski Hafidh dan Azrilia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, namun keduanya memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap kesulitan yang dihadapi bangsa ini. Kepedulian dan solidaritas sosial juga muncul dari seorang bocah 4 tahun yang masih PAUD dan baru mengenal uang.  Keenan Ronauli Wahyudi asal Sampang Madura diantar orang tuanya membawa celengan berisi uang Rp 527 ribu yang ditabungnya selama 17 bulan, untuk disumbangkan melalui Posko Satgas Penanggulangan Covid-19 untuk membantu membeli APD. Ide untuk menyumbang muncul ketika ia merasa sedih melihat di TV banyak dokter yang mengeluh kekurangan APD. Ia ingin menyumbang APD untuk diberikan pada dokter yang berjuang menangani pasien Covid-19. Tiga bocah pahlawan kemanusiaan lain juga viral muncul dari wilayah Timur Indonesia. Yasmin, Tata dan Unsia dari Makasar adalah tiga anak yang baru duduk di bangku SD merelakan uang celengan-nya disumbangkan untuk membantu membeli APD. Yang lebih menyentuh rasa kemanusiaan lagi adalah Michael Diego Bagus Putra (Kelas V SD) dari Kota Batam, seorang penyandang disabilitas sejak lahir. Meski tidak bisa bermain seperti teman-teman sebayanya, ia sudah tahu soal berbagi kepada sesama. Michael mengikhlaskan uang yang dibongkar dari celengan, diperuntukkan membeli penutup wajah guna mencegah penularan virus Covid-19 yang disumbangkan untuk tenaga medis.

Aksi solidaritas dan kepedulian sosial seluruh lapisan masyarakat, dari organisasi, perorangan, hingga anak anak di bawah umur mencerminkan betapa jiwa solidaritas, kepedulian sosial dan gotong royong masyarakat Indonesia muncul di saat bangsa ini menghadapi krisis multi dimensi akibat pandemi Covid-19. Jika sikap dan tindakan gotong royong ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada semua kondisi, maka hal ini akan merupakan modal sosial yang sangat besar untuk menjadikan Indonesia negara yang semakin kuat.  


Hikmah Positif Dibalik Bencana Pandemi Covid-19
sumber: investor.id

Kreativitas yang Produktif
Anjuran pemerintah agar masyarakat tinggal di rumah membuat banyak kalangan yang tidak nyaman, terlebih lagi tidak ada kegiatan yang mendatangkan penghasilan. untuk membiayai hidup keluarga. Menurut Rhenald Kasali (Guru Besar Universitas Indonesia), bahwa di tengah pandemi Covid-19, pasti ada peluang bagi pelaku usaha untuk memperoleh penghasilan, asalkan kreatif dan inovatif. Dengan kata lain, selalu ada peluang di balik musibah. Justru di tengah kesulitan sering muncul kreativitas dalam mengatasi kesulitan. Berikut ini adalah sedikit contoh dari banyaknya kreativitas usaha yang muncul di kalangan masyarakat.
 
Kelompok Pemuda Perumahan Bougenville, Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau tidak ingin berpasrah diri. Mereka melakukan kegiatan kreatif dan produktif memanfaatkan drum bekas untuk dijadikan wastafel portable yang dibutuhkan sebagai sarana umum mencuci tangan. Hingga tanggal 6 April 2020 telah diproduksi 11 wastafel dari drum bekas dengan harga jual antara Rp 1,3 hingga 1,6 juta per unit, tergantung jenis keran air dan sink yang digunakan. Permintaan wastafel portable pertama datang dari PT Chevron Pacific Indonesia (PCI) yang memerlukan wastafel portable untuk dibagikan kepada masyarakat di wilayah Riau. Kreativitas pengrajin ini sangat diapresiasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) Kota Pekanbaru. Program Kota Pekanbaru untuk menyediakan wastafel portable merupakan peluang pasar bagi usaha kreatif ini.

Komunitas anak muda yang tergabung dalam Mataram Kreatif Nusa Tenggara Barat  tidak tinggal diam menghadapi pandemi Covid-19. Atas inisiatif sendiri mereka melakukan kegiatan penyuluhan tentang cara pencegahan penyebaran Covid-19, serta melakukan penyemprotan disinfektan ke rumah-rumah warga, membagikan hand sanitizer dan sabun cuci tangan serta masker yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat  Di Provinsi Bali, lesunya industri pariwisata akibat bencana Covid-19, memunculkan ide kreatif baru, yaitu menggalakkan kerajinan tangan barang kesenian, hingga bisnis rokok elektrik atau vape, terlepas dari berbagai pendapat kesehatan tentang vape ini. Dalam waktu singkat industri kreatif ini tumbuh pesat di segala penjuru Bali, mulai dari Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, hingga Kabupaten Buleleng dan menciptakan banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang kehilangan penghasilan dari sektor pariwisata. Bisnis vape yang notabene dikerjakan oleh usaha kecil menengah (UKM) sudah berkembang pesat. Menurut data Asosiasi Vaporizer Bali (AVB), hingga akhir Maret 2020 setidaknya sudah terdapat 500 vape store yang mempekerjakan hampir 3.000 tenaga kerja. Belum termasuk tenaga kerja yang memproduksi vape. Yang menarik, menurut ketua AVB, usaha baru yang muncul ini bukanlah bisnis kapitalis, melainkan rintisan usaha kecil menengah (UKM), sehingga masyarakat memiliki peluang menjadi wirausaha dan memiliki penghasilan sendiri. Usaha ini akan lebih cepat lagi berkembang jika pemerintah turut memfasilitasi atau memberi stimulan.  


Peluang Keuntungan Ekonomi
Di balik penderitaan yang dialami oleh banyak anggota masyarakat, masih ada beberapa peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk mendapatkan keuntungan. Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati meyakini bahwa dampak ekonomi akibat dari pandemi Covid-19 lebih kompleks dibandingkan krisis yang pernah menimpa Indonesia pada tahun 1997-1998 dan 2008-2009. Meskipun demikian, tidak semua sektor ekonomi dalam negeri terdampak negatif akibat pandemi ini. Masih ada beberapa sektor yang berpotensi mendapat keuntungan, antara lain sektor jasa logistik, jasa telekomunikasi elektronik, industri makanan dan minuman, industri alat kesehatan, dan lain-lain. Industri tekstil dalam negeri mendapat peluang untuk menghasilkan bahan baku lokal pembuatan alat pelindung diri (APD), sementara usaha garmen diupayakan mendapat pesanan pembuatan (APD). Juga terdapat industri otomotif dalam negeri yang siap memproduksi alat ventilator pesanan pemerintah. Berikut beberapa contoh pemanfaatan peluang ekonomi dari sekian banyaknya kegiatan ekonomi masyarakat yang tumbuh di balik lumpuhnya sebagian besar sektor ekonomi akibat pandemi Covid-19.  
 

Hikmah Positif Dibalik Bencana Pandemi Covid-19
sumber: jateng.idntimes.com

Dengan pemberlakuan PSBB, banyak orang yang tidak keluar rumah. Kebutuhan sehari-hari, bahkan barang alat rumah tangga dibeli melalui online. Kondisi ini menyebabkan usaha penjualan barang secara digital meningkat pesat. Meningkatnya permintaan barang melalui online juga berdampak positif terhadap permintaan jasa pengantar barang, makanan, dan bahan makanan yang meningkat secara signifikan. Menurut. Sonny Rustiadi (Dosen ITB), bahwa pandemi Covid-19 tahun ini yang bertepatan dengan Ramadhan akan meningkatkan permintaan, tidak hanya bahan pangan, tetapi juga sandang (pakaian untuk HR Idul Fitri) yang dibeli secara online. Salah satu contoh, perusahaan transportasi online (Grab dan Gojek) menambahkan fitur baru dalam layanan pengantaran makanan mereka (tanpa interaksi langsung dengan driver).
 
Perusahaan yang juga mendapat keuntungan dari pandemi Covid-19 ini adalah perusahaan jasa teleconference, jasa pendidikan online, dan hiburan online. Kebijakan bekerja dari rumah (Work from Home=WFH) bagi semua kantor pemerintah membutuhkan jasa teleconference. Banyak rapat-rapat, kuliah umum, bahkan seminar dilakukan secara tele/videoconference. Akibatnya, permintaan terhadap jasa online ini meningkat pesat dan menguntungkan pebisnis di bidang jasa ini.  

Joseph Renwarin (Direktur Program MM Kalbis Institute Jakarta) mengungkapkan bahwa setiap ada musibah selalu ada peluang bisnis. Bisnis yang saat ini mendapat keuntungan besar adalah penjualan masker, hand sanitizer, disinfektan, dan alat pelindung diri lainnya. Penularan virus korona yang diduga bisa melalui udara, menyebabkan banyak orang yang membeli masker, hand sanitizer, dan disinfektan baik untuk keperluannya sendiri maupun untuk dijual lagi. Demikian juga banyak rumah sakit yang membutuhkan bahan dan alat pelindung diri ini, sehingga merupakan peluang ekonomi bagi pengusaha penghasil dan distributor bahan dan alat-alat tersebut.

Berkah di balik pandemi Covid-19 juga didapat oleh penyandang disabilitas. Di bawah binaan mitra BUMN PT Timah, dua usaha yang dikelola penyandang disabilitas bersama empat ibu rumah tangga lainnya di Belitung membuat 1.000 masker untuk tahap pertama. Meski mengalami keterbatasan, kedua penyandang disabilitas ini dengan telaten membuat masker dengan menggunakan mesin jahit. Keduanya merasa bersyukur, bahwa di tengah kesulitan ekonomi usaha kecil karena pandemi corona, Tuhan masih memberikan rezeki bagi mereka melalui pembuatan masker. Mereka mendapat pesanan membuat 2.000 lembar masker. Mereka berharap pada masa depan ada lagi pesanan, sehingga usaha kecilnya bisa terus berjalan.


Kontribusi Kementerian Pertanian
Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, hampir semua pihak terfokus perhatiannya pada aspek kesehatan. Aspek yang tidak kalah pentingnya dengan kesehatan adalah pemenuhan kebutuhan pangan. Imam Mujahidin (Dosen Universitas Hasanuddin), mengungkapkan bahwa pandemi ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam kecukupan pangan, dimulai dari sisi produksi, distribusi, hingga konsumsi. Dari sisi protokol kesehatan, pemerintah sudah mempunyai strategi khusus untuk mengurangi penyebaran virus melalui PSBB. Strategi itu hanya akan berhasil menekan penyebaran Covid-19, jika kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi. Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, bahwa Menteri Pertanian sangat yakin Indonesia akan dapat melewati masa krisis pandemi ini jika kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi. Bahkan kondisi ini bisa menjadi momentum memperkuat kemandirian pangan nasional.

Hikmah Positif Dibalik Bencana Pandemi Covid-19Menurut Imam, pentingnya kecukupan pangan tidak hanya menjadi fokus perhatian Menteri Pertanian, tetapi juga  menjadi perhatian Presiden RI. Dalam suatu rapat terbatas bulan April 2020, Presiden Joko Widodo menekankan empat poin penting yang harus menjadi prioritas dalam penanganan Covid-19 selain aspek kesehatan. Keempat poin tersebut adalah (1) ketersediaan bahan pangan pokok harus cukup, (2) rantai pasok bahan pangan sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat  (3) harga bahan pangan pokok terjangkau oleh masyarakat dan, (4) situasi covid-19 harus bisa dijadikan momentum reformasi kebijakan sektor pangan.

Sejalan dengan arahan Presiden, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah melakukan berbagai upaya dalam berkontribusi menenggulangi pandemi Covid-19. Program jangka pendek yang sangat mendesak adalah memberi bantuan beras kepada rakyat kecil yang terdampak pandemi corona. Kementerian Pertanian menyiapkan 155 ton beras bantuan untuk dibagikan kepada masyarakat miskin terdampak Covid-19. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), tahap pertama distribusi bantuan beras sudah dilakukan sejak awal bulan Ramadhan di wilayah Jabodetabek, bekerja sama dengan Kodim di tiap kabupaten/kota. Pembagian beras bantuan Kementan dilakukan dengan menggunakan mesin pembagi otomatis (Rice Vending Machine) mirip dengan mesin ATM. Tiap mesin disiapkan 1.500 kg beras per hari untuk dibagikan pada 1.000 orang masing-masing 1,5 kg per keluarga per hari. Pada tahap pertama disiapkan 10 mesin pembagi otomatis di 10 titik bagi, yaitu di Kodim se-DKI 5 unit, Kodim Depok, Tangerang  Bekasi serta Kodim Kabupaten dan Kota Bogor masing-masing 1 unit. Menurut Kepala Balitbangtan yang disampaikan oleh Plt Sekretaris Balitbangtan, dalam webinar dengan Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR) tanggal 14 Mei 2020, pada tahap kedua pembagian beras bantuan Kementan menggunakan mesin ini akan dilakukan di 9 provinsi yang produksi berasnya tidak mencukupi, yaitu: Provinsi  Kepulauan Riau, Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua dan Papua Barat.

Untuk kepentingan jangka menengah dan panjang, Kementan mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk memperkuat cadangan pangan melalui kegiatan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM). Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, tahun 2020, sebanyak 300 kelompok LPM yang tersebar di 120 kabupaten di 28 provinsi mendapatkan bantuan pemerintah (banper) untuk pengisian cadangan pangan di lumbungnya. Banper tersebut, di sebagian besar wilayah Indonesia sudah langsung dimanfaatkan oleh kelompok LPM untuk membeli gabah/beras. Upaya tersebut bertepatan dengan musim panen saat ini, sehingga selain memperkuat cadangan pangan juga sekaligus berperan dalam menjaga kestabilan harga gabah di tingkat petani. Beberapa contoh kelompok LPM yang telah berhasil mengisi lumbung pangannya antara lain adalah kelompok LPM “Ngudi Subur” di Desa Bangun Harjo, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, dan kelompok “Sinar Tani Raya”, di Desa Laok Jang Jang, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jatim.  Contoh pemanfaatan peluang ekonomi di atas diyakini hanya sedikit dari banyaknya kegiatan ekonomi masyarakat yang tumbuh di balik lumpuhnya sebagian besar sektor ekonomi akibat pandemi Covid-19.   Kedua kelompok ini adalah contoh di antara banyak LPM yang sudah berkembang dan berhasil melakukan aktivitas jual beli dan simpan pinjam gabah untuk meningkatkan usaha ekonomi produktifnya. Dari hasil jual beli gabah/beras kelompok memperoleh margin keuntungan yang dapat meningkatkan modal kelompok. Dengan demikian, cadangan pangan tercukupi dan petani dapat menjual gabahnya dengan harga yang layak.
 
Bentuk kontribusi Kementan lainnya adalah subsidi biaya pengiriman bahan pangan. Kuatnya ketahanan pangan tidak hanya semata ditentukan oleh aspek ketersediaan pangan, tetapi juga aspek distribusinya ke seluruh wilayah, terlebih lagi di saat pandemi Covid-19 dan menjelang Idul Fitri saat ini. Untuk mengatasi keterlambatan distribusi, Kementan melalui BKP tidak hanya membantu tersedianya pangan, tetapi juga membantu kelancaran distribusinya dengan memberikan fasilitasi pengiriman dari daerah yang sedang panen atau surplus ke wilayah yang mengalami kelangkaan dan kenaikan harga yang tinggi.

Kepala BKP Kementan mengungkapkan bahwa pihaknya secara rutin melakukan pemantauan ketersediaan pangan yang ada di seluruh provinsi, untuk memastikan tidak adanya kelangkaan pasokan maupun kenaikan harga yang tinggi, terutama pada kondisi Covid-19. Bantuan distribusi pangan ini  bertujuan untuk mencegah kelangkaan di daerah konsumen, juga  agar hasil panen petani dapat terserap oleh pasar di tengah kondisi pandemi Covid-19. Salah satu contoh, pertengahan April 2020, BKP Kementan membantu pengiriman cabai merah keriting dari Jateng ke Jambi dan Sumbar. Contoh lainnya, sejak awal hingga minggu kedua Mei 2020, sebanyak 28 ton bawang merah dikirim dari Enrekang ke Ambon, sebanyak 7 ton bawang merah dikirim dari Temanggung ke Banda Aceh, dan 4 ton cabai rawit dari Tuban ke Pontianak, untuk stabilisasi pasokan dan harga.

Kontribusi lain yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia adalah hasil penelitian Balitbangtan tentang potensi dan prospek minyak eucalyptus sebagai formula anti virus. Jika formula ini berhasil, maka akan menjadi kontribusi yan sangat spektakuler dari Kementerian Pertanian dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Menurut Kepala Blitbangtan, uji potensi eucalyptus oil sebagai antivirus dilakukan dengan tahapan telusur ilmiah serta uji invitro. Pengujian menggunakan beberapa konsentrasi dari beberapa jenis virus yakni virus influenza dan beberapa jenis virus corona. Namun, pengujian belum menggunakan virus corona jenis baru penyebab Covid-19 karena Balitbangtan tidak mempunyai virus jenis tersebut. Meskipun demikian, zat aktif dalam eucalyptus, yakni 1,8 cineol (eucalyptol) dalam beberapa studi pengujian telah membuktikan bahwa senyawa tersebut dapat terikat pada Mpro virus corona jenis apapun. Mpro inilah yang ditarget agar replikasi virus menjadi terhambat. Dengan demikian, formula eucalyptus sangat potensial dalam menghambat replikasi virus corona penyebab Covid-19.


Hikmah Positif Dibalik Bencana Pandemi Covid-19
sumber: www.alinea.id

Penutup
Pengendalian diri, kepedulian sosial, kreativitas masyarakat, serta pemanfaatan peluang ekonomi ditengah kesulitan bangsa mencerminkan strategi mitigasi atau cara masyarakat Indonesia dalam mengadaptasi diri untuk mengurangi dampak negatif dari bencana pandemi Covid-19. Keempat strategi tersebut selain dapat mengurangi kondisi keputusasaan yang dialami masyarakat terdampak, juga dapat mengurangi beban pemerintah dalam menangani dan memulihkan kondisi masyarakat terdampak.

Kontribusi instansi pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, terutama dalam menjaga ketersediaan dan distribusi pangan menjadi sangat krusial. Tanpa kecukupan pangan bagi masyarakat terdampak, maka protokol kesehatan yang dilaksanakan melalui PSBB untuk menekan penyabaran Covid-19 tidak akan berhasil dengan baik. Demikian juga kontribusi hasil penelitian potensi minyak eucalyptus dalam menghambat replikasi virus penyebab Covid-19, jika berhasil akan merupakan kontribusi yang sangat spektakuler dalam menyelamatkan bangsa dari pandemi Covid-19. Pada masa depan, sikap kepedulian yang dilandasi jiwa gotong-royong masyarakat Indonesia, serta penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, seyogyanya terus didorong untuk dikembangkan agar Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan tahan terhadap berbagai guncangan.

 

0
0
0
s2smodern
powered by social2s