Sumber: liputan6.com

Di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah membuat kebijakan untuk WFH (Work From Home) dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang akhirnya memaksa banyak warga perkotaan memiliki banyak waktu luang di rumah. Kebijakan ini awalnya dimaksudkan untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran Covid-19.  Namun, ternyata kebijakan ini juga memiliki dampak positif lainnya berupa munculnya ide tetap produktif di rumah dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk bertani atau yang disebut dengan urban farming. Fenomena urban farming yang saat ini kembali booming adalah sebuah konsep mengubah pertanian konvensional yang membutuhkan lahan luas menjadi pertanian perkotaan dengan lahan terbatas seperti lahan pekarangan.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang mengeluarkan kebijakan bahwa salah satu strategi sektor pertanian Indonesia untuk menghadapi pandemi Covid-19 adalah dengan melakukan optimalisasi lahan pekarangan dengan menanam tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga mengajak masyarakat bertani di halaman rumah untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus menjaga pasokan pangan keluarga. Apalagi pandemi Covid-19 ini mengakibatkan ancaman krisis pangan karena terganggunya rantai pasok pangan. Untuk mengantisipasi adanya krisis pangan, urban farming di pekarangan sebagai small unit of landscape bisa dilakukan sebagai strategi untuk mewujudkan kemandirian pangan.

Jumlah penduduk perkotaan (urban population) di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2019 tercatat jumlah penduduk perkotaan 150,9 juta jiwa atau sekitar 55,8% dari total penduduk Indonesia sebanyak 270,6 juta jiwa. Angka ini diprediksi pada tahun 2025 akan mencapai 170,4 juta jiwa atau 59,3% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 287 juta jiwa (Worldometers 2019). Berdasarkan data rumah tangga miskin, 71% rumah tangga di perkotaan memiliki status ketahanan pangan dalam kategori sangat rawan pangan dan sisanya 19% dalam kategori rawan pangan. Besarnya populasi penduduk perkotaaan memberikan dampak terhadap rendahnya ketahanan pangan di perkotaan akibat rendahnya tingkat pendapatan rumah tangga per kapita tiap bulannya (Purlika 2004). Rendahnya ketahanan pangan menurut Badan Ketahanan Pangan akan menyebabkan tingginya populasi angka stunting atau gagal tumbuh. Menurut data populasi stunting anak di bawah dua tahun mencapai 28,8% di tahun 2018 (Badan Ketahanan Pangan 2018). Padahal untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, kebutuhan pangannya harus tercukupi dari segi jumlah, mutu, dan keamanannya (Suryana 2004).


Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan telah membuat program yang diharapkan bisa memberdayakan masyarakat menjadi kaum yang mandiri secara ekonomi dan sosial melalui program Kawasan Mandiri Pangan (Badan Ketahanan Pangan 2018). Dengan program Kawasan Mandiri Pangan ini masyarakat dilatih agar bisa memproduksi bahan pangan melalui urban farming. Hal ini sebagai upaya pemenuhan ketersediaan pangan di perkotaan yang dapat memperpendek proses distribusi pangan, mengurangi harga jual sehingga meningkatkan daya beli masyarakat dan dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga (World Bank 2013). Ada beberapa jenis pemanfaatan urban farming yaitu: (1) memanfaatkan lahan tidur dan lahan kritis; (2) memanfaatkan ruang terbuka hijau (baik milik pribadi maupun publik); (3) mengoptimalkan kebun sekitar rumah; (4) menggunakan ruang (vertikultur) (Dinas Pertanaman Kota Surabaya 2012).

  Sumber: merdeka.com

Ada berbagai metode urban farming yaitu: (1) pemanfaatan permukaan tanah (cara konvensional); (2) Vertikultur dengan memanfaatkan ruang vertikal sebagai tempat bercocok tanam, baik dalam bentuk digantung maupun rambat atau terpasang di dinding; (3) penanaman dalam pot/polybag sebagai media tanam sehingga mudah dipindahkan pada lahan sempit, dalam ruangan atau di atap rumah; (4) Hidroponik dengan menggunakan air atau unsur hara. Biasanya dengan menggunakan wadah berbentuk pipa yang disusun bertingkat maupun berjejer dengan sistem pengaturan air dan hara. Instalasi hidroponik dapat ditempatkan di luar ruangan, dalam ruangan maupun di atap rumah; (5) Microgreen adalah budi daya tanaman sayuran berukuran kecil pada fase setelah kecambah atau sebelum dewasa berumur 7-21 hari. Biasanya menggunakan wadah berukuran kecil seperti tray atau nampan (Alinea 2010). Berbagai tips dan trik agar dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan cara membuat saluran irigasi yang efisien saat ini bisa dengan mudah didapatkan di media sosial. Bahkan untuk mendapatkan benih bisa dibeli secara online shop.

Selain itu urban farming  juga bisa dikombinasikan dengan beternak ikan seperti membudidayakan ikan lele dengan sistem bioflok atau dengan menggunakan budi damber (budi daya ikan dalam ember) yaitu dalam satu ember ditanam benih kangkung yang cepat dipanen. Ini dinamakan sistem akuaponik sehingga terbentuk simbiosis mutualisme antara kangkung dan lele selain itu juga bisa ditanam pakchoy, selada, dan kombinasi juga dengan ikan seperti mujair atau mas. Ikan mengandung protein yang baik untuk pertumbuhan terutama anak-anak sehingga dengan urban farming metode akuaponik ini diharapkan mampu mencukupi kebutuhan harian masyarakat dan dapat mencegah stunting sesuai dengan program Kementerian Kesehatan.


Hasil penelitian di Kota Semarang membuktikan bahwa urban farming dengan metode akuaponik terbukti mampu meningkatkan pendapatan para warga. Selain itu ada manfaat tambahan lain yang didapat yaitu: (1) bisa diaplikasikan di lahan terbatas; (2) padat tebar ikan tanaman cukup tinggi; (3) lebih efisien dalam penggunaan sumber daya air dan listrik; (4) tanaman tidak memerlukan asupan nutrisi kimia; (5) limbah yang dihasilkan dalam sistem akuaponik sangat sedikit dan ramah lingkungan; (6) sayuran lebih baik dibandingkan dengan sayuran organik tanah; (7) bebas pestisida tanaman; (8) kandungan gizi optimal; (9) bebas kontaminasi zat berbahaya, seperti timbal, merkuri dan logam berat lainnya; (10) kaya rasa dan lebih segar  (Yulianti 2019).

Setiap orang harus memperkuat imunitas tubuh pada masa pandemi Covid-19. Hal ini bisa dilakukan dengan sering mengkonsumsi formulasi (ramuan) yang terdiri jahe, kunyit, temulawak, sereh, dan bahan lainnya yang sering disebut dengan empon-empon.  Dengan urban farming tanaman ini bisa ditanam di pekarangan sehingga tidak hanya dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan harian saja,  tetapi bisa menjadi apotek hidup atau menjadi sumber tanaman obat keluarga (toga). Dinas Pertanian DKI sudah membagikan bibit tanaman herbal seperti sirih merah, sirih putih, jahe merah, jahe putih, mahkota dewa, brotowali, lidah buaya, sambung nyawa, daun sereh, kunyit, kenguas, cocor bebek dll untuk urban farming (Cahya 2014).

Sumber: detik.com

Urban farming  juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan suboptimal, sampah organik atau sisa bahan makanan rumah tangga sebagai pupuk kompos, serta air limbah perkotaan untuk menyiram tanaman (RUAF 2008). Kombinasi manfaat urban farming  memang tidak hanya dari sisi ekonomi tapi juga manfaat sosial dan lingkungan karena urban farming juga sangat tepat untuk wilayah perkotaan yang berpolusi. Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia telah menjadikan urban farming sebagai salah satu program untuk mengurangi kemiskinan dengan menggunakan APBD Kota Surabaya. Tujuan dari program ini adalah untuk penumbuhan dan pengembangan budi daya sayuran disesuaikan dengan potensi wilayahnya, mengembangkan dan dan memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja produktif, upaya perbaikan gizi buruk dan mengembangkan pola pembinaan masyarakat yang partisipatif.  Bantuan diberikan pemerintah dalam bentuk perlengkapan serta peralatan pada masing-masing kepala keluarga (KK) berupa benih sayuran, bibit umur, pot, pupuk serta kantong plastik.


   Sumber: beritajakarta.id

Kota lain yang sudah melakukan urban farming adalah Kota Bogor. Program yang dibina oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bogor sudah berlangsung sejak tahun 2018 dan dilakukan di 24 lokasi. Menurut Wakil Walikota Bogor, Dedie Rachim, saat dilakukan evaluasi oleh tim pengendalian inflasi Jawa Barat, dan rencananya teknik urban farming ini akan dijadikan alternatif  untuk mengendalikan inflasi karena ternyata salah satu penyumbang inflasi terbesar di Jawa Barat adalah cabai. Diharapkan jika masyarakat mampu menghasilkan cabai dari kegiatan bercocok tanam di lahan pekarangan sendiri maka inflasi bisa ditekan (Dinas Ketahanan Pangan kabupaten Bogor 2018).  Selain itu, juga dilakukan upaya untuk melibatkan kelompok taruna tani (KTT) dalam memanfaatkan pekarangan, dengan cara membentuk kampung alpukat. Setiap satu rumah menanam dua pohon alpukat dengan bibit unggulan berasal dari Taman Buah Mekarsari hingga terbentuk kawasan kampung alpukat.

Dari aspek ekonomi,  urban farming dapat berperan sebagai penyedia lapangan kerja dan dapat meningkatkan penghasilan masyarakat serta dapat mengurangi kemiskinan. Urban farming dianggap lebih penting daripada sebagai penyedia makanan tambahan bila dikelola secara maksimal. Urban farming berperan terhadap ekonomi melalui perluasan bisnis ekonomi kota melalui produksi, pengolahan, pengemasan, dan pemasaran produk konsumsi komoditas pertanian (World Bank 2013). Riset yang dilakukan di DKI Jakarta menunjukkan kontribusi urban farming terhadap total pendapatan rumah tangga sebesar 69,0%  dari total pendapatan rumah tangga atas biaya tunai atau sebesar 62,7 % dari total pendapatan rumah tangga atas biaya total. Hal ini menunjukkan urban farming di Jakarta memberikan kontribusi pendapatan bagi masyarakat (Amatillah 2018).

Masa pandemi Covid-19 memang memaksa masyarakat untuk membatasi aktivitasnya di luar rumah. Namun, walaupun masyarakat hanya beraktivitas di rumah produktivitas dan ketahanan pangan keluarga tetap harus dijaga. Melibatkan anak-anak yang saat ini masih harus belajar dari rumah agar memiliki aktivitas yang produktif dengan urban farming ini sejatinya adalah salah satu media pembelajaran yang sangat efektif selain itu akan terbentuk bonding yang kuat antara orang tua dan anak saat melakukan aktivitas ini secara bersama-sama. Pada masa pandemi Covid-19 anak-anak masih harus belajar dari rumah bersama dengan orang tua di rumah, urban farming sangat cocok untuk dijadikan media belajar anak sekaligus mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat. Sedari dini anak diajari untuk bekerja keras jika ingin mendapatkan sesuatu. Hal ini bisa diaplikasikan lewat urban farming. Anak-anak diajari menanam benih, menyiram tanaman, memberi pupuk bahkan sampai memanen hasil. Kecintaan anak terhadap pertanian akan semakin terasah.


Manfaat lainnya yang dirasakan dengan adanya urban farming ini adalah: (1) memberikan kontribusi pengelolaan sampah reuse dan recycle; (2) membantu menciptakan kota yang bersih untuk pengelolaan sampah kota dengan 3R (reuse, recycle, reduce): (3) menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota; (4) meningkatkan estetika kota, dan (5) menjadi penghasilan tambahan penduduk kota (Dinas Pertanian Kota Surabaya 2012).

Sumber: ugm.ac.id

Program pelestarian lingkungan di perkotaan oleh pemerintah (top down)  hanya bisa efektif apabila didukung dengan pendekatan dari bawah bottom-up) dalam bentuk gerakan sosial. Gerakan akar rumput yang dilakukan oleh masyarakat melalui urban farming yang juga sudah dilakukan di beberapa negara di Eropa terbukti mampu mengurangi dampak emisi karbon, membantu upaya peningkatan daur ulang dari sumber daya air dan sampah. Lebih jauh lagi urban farming dapat menjadi media pengembangan ekonomi lokal dari produk yang dihasilkan di pekarangan (Prasetiyo and Budimansyah 2016).

Urban farming yang berlandaskan prinsip sustainability (keberlanjutan) dan affordability (keterjangkauan) memang hanya sebuah langkah kecil dalam mewujudkan kemandirian pangan bangsa. Tetapi langkah kecil yang dilakukan secara masif di setiap rumah tangga perkotaan dengan dukungan dari pemerintah sedikit banyak akan membantu mewujudkan kemandirian pangan masyarakat pada masa pandemi Covid-19 ini. Sudah seharusnya kemandirian pangan dimulai dari rumah tangga sebagai unit terkecil kemudian satu RT (rukun tetangga), diikuti satu RW (rukun warga) dan selanjutnya satu desa/ kelurahan hingga sampai tingkat nasional.

0
0
0
s2smodern
powered by social2s