Dualisme Kesehatan dan Ekonomi Selama Pandemi Covid-19

Kesehatan dan Ekonomi Menjadi Buah Simalakama dalam Tatanan New Normal
sumber: katadata.co.id

Hampir semua masyarakat Indonesia paham arti kiasan makan buah simalakama, yang bermakna keputusan atau pilihan yang serba salah, atau pilihan yang semua mengandung risiko.  Kondisi itulah yang saat ini dihadapi dunia di tengah pandemi Covid-19, termasuk Indonesia. Wabah covid 19 yang melanda dunia telah melumpuhkan hampir semua sektor ekonomi dunia, sehingga banyak terjadi pengangguran. Biro Pekerja Kontrak Adecco di Italia memprediksi total pengengguran akbiat pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kondisi pandemi Covid-19 mencapai 23 juta orang. Menurut Andrea Malacrida, Kepala Biro tersebut, sebagian besar tenaga kerja yang terkena PHK adalah pegawai kontrak.

Di Amerika Serikat, sejak penutupan kegiatan ekonomi bulan Maret sampai akhir Mei 2020,  pemerintah Amerika Serikat memperkirakan sekitar 41 juta tenaga kerja yang kehilangan lapangan kerja akibat pandemi Covid-19. Meskipun beberapa negara bagian sudah membuka kegiatan ekonomi seperti toko, restoran, salon, pusat kebugaran dan bisnis lainnya, namun banyak perusahaan besar yang masih merumahkan pegawainya, akibat pandemi. 

Di China, dampak pandemi Covid-19 lebih buruk lagi. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh seorang Ekonom China, Zhan Bin, memperkirakan bahwa sekitar 80 juta tenaga kerja China akan mengalami PHK. Ekonom Societe Generale, Michelle Lam, menyebutkan bahwa perkiraan 80 juta PHK tersebut setara dengan 10% dari penduduk China yang seharusnya mendapat pekerjaan. Kondisi kesempatan kerja ini diperparah lagi oleh munculnya angkatan kerja baru, yaitu akan lulusnya sekitar 8,7 juta sarjana baru yang akan turut memperebutkan lapangan kerja yang masih ada,

Di Indonesia, durasi pandemi yang semula diperkirakan akan selesai pada akhir Mei 2020 ternyata meleset. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang bulan Maret lalu menyatakan bahwa status darurat wabah Covid-19 di Indonesia diprediksi selama 91 hari sejak tanggal 29 Februari hingga 29 Mei 2020, ternyata hingga awal Juli 2020 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan selama minggu keempat bulan Juni 2020 masih terdapat tambahan kasus positif Covid-19 rata rata lebih dari 1000 orang per hari.

Sejak minggu kedua April 2020, Menteri Kesehatan mengeluarkan Surat Keputusan  Nomor 9 tahun 2020 yang menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa provinsi. Dengan berlakunya PSBB, hampir semua kegiatan ekonomi terhenti, kecuali produksi dan distribusi bahan makanan, obat-obatan dan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan. Dengan demikian, hanya toko atau warung makanan dan bahan makanan, serta toko APD dan obat (apotek) yang boleh beroperasi. Dengan kata lain banyak kegiatan ekonomi yang tidak berjalan.

Terhentinya sebagian besar kegiatan ekonomi berdampak luar biasa terhadap masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Banyak pelaku usaha ekonomi kecil nonformal dan pekerja harian yang kehilangan pendapatan, baik karena usahanya terhenti maupun karena terkena PHK. Menurut Menteri Tenaga Kerja hingga minggu ketiga bulan April 2020 sudah terjadi PHK sekitar 2 juta orang. Lebih lanjut, Sekretaris Menko Perekonomian mengungkapkan bahwa sejak 3 Maret hingga 2 Juni 2020 sudah terjadi PHK dan pekerja dirumahkan akibat Covid-19 sebanyak 3,05 juta orang. Bahkan Kementerian Tenaga Kerja memperkirakan akan ada tambahan pengangguran sebanyak 5,23 juta orang apabila Covid-19 terus meluas. Berarti akan ada sekitar 8,28 juta orang yang kehilangan penghasilan. Jika ditambahkan dengan jumlah anggota keluarga yang harus ditanggung, maka dapat dibayangkan betapa besarnya anggota masyarakat yang menderita secara ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini.  Kondisi ekonomi yang buruk ini bisa menimbulkan gejolak sosial, politik, keamanan, dan ketertiban. 

Di sisi lain, jika semua kegiatan ekonomi dan pelayanan publik dibebaskan beroperasi seperti sebelum wabah Covid-19, terutama kegiatan yang melibatkan banyak orang, maka bisa dipastikan akan terjadi penyebaran penyakit melalui penularan yang tidak terkendali, serta akan menimbulkan banyak korban jiwa. Kejadian ini juga harus dicegah dengan segala upaya. Salah satu pilihan yang ekstrim adalah menghentikan semua kegiatan ekonomi dan pelayanan publik yang disebut lockdown.

Seperti diungkapkan di atas, terhentinya kegiatan ekonomi akan berdampak luar biasa terhadap banyaknya anggota masyarakat yang kehilangan penghasilan. Di lain pihak, jika kegiatan ekonomi dibiarkan tetap beroperasi seperti kondisi normal, bisa menimbulkan penyebaran Covid-19 yang tidak terkendali dan bisa menimbulkan banyak korban jiwa. Kedua kondisi yang berlawanan di atas memerlukan solusi karena merupakan pilihan simalakama. Pilihan kebijakan yang pareto optimal hampir tidak mungkin. Untuk itu diperlukan salah satu pilihan yang bijak dengan pengorbanan terkecil. 


Pertimbangan Logika

Kesehatan dan Ekonomi Menjadi Buah Simalakama dalam Tatanan New Normal
sumber: katadata.co.id

Diperlukan strategi yang harus dipertimbangkan secara matang dalam mengambil keputusan di antara dua pilihan yang sama-sama berisiko tinggi. Mana pilihan yang memberi manfaat lebih besar atau risiko yang lebih kecil. Sekedar ilustrasi, jika ada 2 orang (ibu dan anak) dalam musibah (misal kapal akan tenggelam) dan hanya salah satu yg bisa diselamatkan masuk sekoci, siapa yang harus diprioritaskan? Kedua pilihan adalah ibarat makan buah simalakama. Jika yang diselamatkan si ibu, si anak yang harus dikorbankan. Sebaliknya jika yg diselamatkan si anak, sang ibu yang harus dikorbankan. Menurut logika, yang dipilih untuk diselamatkan adalah si anak, meskipun dengan sangat berat harus mengorbankan ibunya. Si anak masih mempunyai masa depan yang jauh lebih panjang daripada ibunya.    

Ilustrasi strategi pemilihan di atas analog dengan memilih penyelamatan kesehatan atau ekonomi dalam kondisi pandemi Covid-19. Menyelamatkan kesehatan tanpa keruntuhan ekonomi dan PHK adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin. Demikian juga menyelamatkan ekonomi tanpa korban meninggal akibat Covid-19 juga sesuatu yang hampir mustahil. Yang rasional adalah memilih salah satu, dengan dampak negatif yang paling kecil.

Pilihan Solusi

Pilihan 1, selamatkan kesehatan dengan menghentikan aktivitas ekonomi. Semua penduduk, termasuk lansia terselamatkan kesehatannya. Korbanannya adalah ekonomi tetap lumpuh. Korban terbesar dari lumpuhnya ekonomi adalah generasi muda yang produktif kehilangan lapangan kerja. Selain itu, masih ada anak-anak yang hidupnya tergantung pada kelompok usia produktif. Data statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif di Indonesia (asumsi umur 15-59 tahun) pada tahun 2019 adalah 171,5 juta atau sekitar 64% dari jumlah penduduk Indonesia. Selain itu, penduduk usia anak-anak (<15 tahun) yang masih tergantung pada penduduk usia produktif sebanyak 70,6 juta atau sekitar 26% dari penduduk Indonesia. Dengan demikian sebanyak 242,1 juta atau sekitar 90% penduduk yang berpotensi menjadi korban akibat hilangnya lapangan kerja. Untuk memulihkan ekonomi agar generasi muda kembali memperoleh lapangan kerja, memerlukan waktu yang panjang.

Pilihan 2, selamatkan ekonomi dengan membuka kembali kegiatan ekonomi. Korbanannya adalah kesehatan terpuruk, pandemi Covid-19 tetap berlangsung. Dalam kondisi ini generasi muda relatif kuat. Dengan tetap melakukan protokol kesehatan secara disiplin selama beraktivitas ekonomi, kelompok ini akan kuat dan kecil peluangnya menjadi korban Covid-19. Penduduk yang rentan terhadap Covid-19 adalah penduduk usia lanjut (lansia). Bila terpapar, risikonya cukup tinggi, terlebih lagi yang mempunyai penyakit bawaan (komorbid), sangat berisiko kematian. Oleh karena itu, kelompok lansia perlu mendapat pengamanan khusus, terutama isolasi mandiri di rumah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan secara lebih ketat, bahkan memberlakukan lockdown. Tidak keluar rumah, tidak bertemu dengan teman, sanak keluarga, termasuk anak dan cucu yang tinggal di kota lain, dan menghindari keramaian. Asupan gizinya juga harus baik, istirahat yang cukup, berjemur, dan olah raga ringan di rumah merupakan upaya pencegahan dari paparan Covid-19. Dengan demikian, peluang menjadi korban Covid-19 bisa diperkecil. Data statistik tahun 2019 menunjukkan bahwa penduduk usia > 60 tahun sekitar 10% dari penduduk Indonesia, jauh lebih kecil daripada generasi muda yang sekitar 90% dari penduduk Indonesia.

Penyelamatan ekonomi membuka peluang generasi muda untuk kembali produktif dan mempunyai masa depan yang baik, termasuk dampak positif bagi generasi berikutnya. Dengan demikian dapat dianalogikan bahwa memilih penyelamatan ekonomi adalah pilihan makan buah simalakama dengan risiko korbanan terkecil. Korbanan memilih buah simalakama ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan hilangnya kegiatan ekonomi nonformal serta dahsyatnya dampak PHK.   

Dengan memperhatikan belum adanya tanda-tanda melandainya curva kasus positif pasien terjangkit Covid-19, maka pemerintah melalui Menteri Kesehatan pada tanggal 20 Mei 2020 mengeluarkan Keputusan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di tempat kerja perkantoran dan Industri dalam mendukung “Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi”. Dalam panduan ini, perkantoran, BUMN, perusahaan industri swasta diperbolehkan kembali bekerja di kantornya masing-masing, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, yaitu: pergi dari dan pulang ke rumah tetap menggunakan masker, menjaga jarak dengan orang lain (termasuk dalam transportasi umum), melakukan Self Assessment risiko Covid-19, kontrol suhu badan sebelum memasuki kantor atau tempat kerja, sering mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, sering menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol 70% setelah memegang benda yang dipegang orang banyak, meyakinkan ruangan kerja selalu bersih dan higienis, mengatur asupan gizi yang baik dan sehat. Di samping itu juga dianjurkan menerapkan etika batuk atau bersin, serta menghindari keramaian.  

Kebijakan pelonggaran PSBB ini merupakan pilihan bijak untuk memulihkan kondisi ekonomi, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Dengan demikian, ekonomi secara bertahap bisa tumbuh, sambil tetap berupaya menekan risiko buruknya kesehatan sekecil mungkin.

0
0
0
s2smodern
powered by social2s