Pendahuluan

Peluang Bisnis Pertanian pada Masa Pandemi dan Era New Normal
sumber: finansialku.com

Sektor pertanian sebagai penghasil pangan, tidak luput juga terkena imbas negatif pandemi Covid 19. Situasi pandemi memaksa para pedagang, pengolah, pengusaha hotel dan restoran mengurangi kegiatan perdagangan atau produksi barang dan jasa yang menggunakan produk pangan sebagai bahan baku. Kasus terjadi gangguan distribusi dan pemasaran produk pertanian disertai dengan penurunan harga telah terjadi di berbagai daerah produksi walaupun mungkin bersifat sementara. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi insentif bagi petani untuk berproduksi pada musim-musim berikutnya. Di samping itu, terhambatnya pasokan sarana produksi dan tenaga kerja akibat menurunnya mobilitas manusia karena penerapan protokol kesehatan dapat memengaruhi proses produksi pertanian.

Penurunan harga komoditas di era pandemi dapat menurunkan kesejahteraan petani. Utami (2020) menyebutkan ada tiga faktor penyebab menurunnya harga komoditas pertanian pada masa pandemi Covid-19, yaitu: (1) pembatasan transportasi dan kegiatan ekonomi seperti kebijakan PSBB telah berimbas pada lambatnya proses distribusi komoditas pertanian, (2) pemutusan hubungan kerja secara masif di berbagai sektor usaha mengakibatkan menurunnya daya beli serta permintaan pasar yang gilirannya menyebabkan komoditas pertanian semakin tertekan, dan (3) terhentinya aktivitas sosial seperti hajatan, pesta, serta silaturohmi yang umumnya memerlukan bahan pangan/logistik yang besar. Kondisi ini menyebabkan permintaan bahan makan semakin menurun.

Perubahan Perilaku Konsumen Produk Pertanian

Dalam ilmu pemasaran pengetahuan dan pemahaman terhadap perilaku konsumen adalah salah satu syarat kunci sukses menguasai pasar. Oleh karena itu, dinamika perilaku konsumen pertanian pada masa pandemi maupun normal baru mesti menjadi perhatian pelaku bisnis pertanian. Yuswohadi (2020) menyebutkan secara prinsip tata kelola usaha dalam kondisi kenormalan baru (new normal) harus menyesuaikan dengan perubahan perilaku masyarakat (lebih spesifik konsumen). Paling sedikit ada lima perubahan utama perilaku masyarakat yang diprediksi terjadi dan menjadi peluang untuk dikembangkan di sektor pertanian, yaitu:

  • Pembelian daring mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk kebutuhan (needs). Perubahan ini akan menguntungkan karena sebagian besar produk pertanian adalah kebutuhan pokok. Ini berarti akan terjadi peningkatan produk-produk pertanian atau minimal akan sama dengan sebelum pandemi.

Peluang Bisnis Pertanian pada Masa Pandemi dan Era New Normal
sumber: raewardfreshqueenstown.co.nz
  • Konsumen mulai mengurangi makan di restoran (eating out) dan beralih ke layanan pesan antar (delivery). Pola pembelian makanan “pesan antar” yang sebelumnya sesekali menjadi lebih rutin. Implikasinya bagi usaha perhotelan, restoran, dan kafe (horeka) akan terdampak karena terjadi penurunan permintaan untuk di makan di tempat. Walaupun demikian ada peluang penurunan tersebut terkompensasi dengan layanan delivery, walaupun tidak sebanding dengan penurunan yang terjadi di horeka
  • Kebijakan Work From Home (WFH) telah mengembalikan ibu rumah tangga untuk lebih rutin memasak makanan sendiri di rumah. Situasi ini berpotensi menjadikan permintaan untuk produk segar pertanian akan meningkat, seperti sayuran dan daging.
  • Pasangan rumah tangga milenial dengan pola pikir kepraktisannya, juga diprediksi akan lebih banyak memasak makanan sendiri, namun dengan bahan yang siap masak (ready to cook) dan dapat dimasak sewaktu-waktu (frozen food). Fenomena ini bisa berdampak terhadap semakin meningkatnya permintaan komoditas pangan berupa bahan/produk siap olah beku.
  • Pola belanja secara daring yang berulang (umumnya untuk kebutuhan dasar dan penting) akan mendorong berkembangnya pola berlangganan. Pola ini akan menyebabkan peningkatan intensitas belanja secara daring yang diperkirakan akan berkembang semakin pesat pada masa new normal dan pada masa masa mendatang.

Prospek Bisnis Pertanian di Era New Normal

Lalu bagaimana pelaku usaha pertanian merespons perubahan perilaku konsumen sebagaimana diuraikan di atas? Perubahan perilaku konsumen pada masa pandemi Covid 19 dan new normal harus direspons oleh pelaku usaha pertanian untuk menentukan strategi pemasaran yang tepat. Model penjualan online (e-commerce) bisa menjadi pilihan karena semakin diminati konsumen pada masa pandemi Covid-19. Pelaku agribisnis (misalnya Sayurbox) mengakui adanya peningkatan penjualan seiring dengan pandemi Covid-19. Disebutkan bahwa omset penjualan meningkat sejak Maret dan perusahaan e-commerce ini mencatat kenaikan pemesanan lima kali lipat dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Setelah ada pandemi dan disusul himbauan bekerja dari rumah (WFH) ada peningkatan penjualan dan terbesar terjadi pada sayuran (Alinea.id 9 Mei 2020)

Dengan perilaku konsumen yang cenderung lebih menyukai belanja dari rumah, maka produsen (termasuk kelompok tani dan koperasi tani) harus melakukan adaptasi dari pemasaran secara offline ke e-commerce. Sistem e-commerce diperlukan untuk mengurangi tingkat kontak langsung antarmanusia. Sistem e-commerce juga lebih cepat dan praktis dalam penggunaannya. Namun, sayangnya hingga kini banyak daerah yang belum bisa mengakses e-commerce karena minimnya jaringan internet.


Peluang Bisnis Pertanian pada Masa Pandemi dan Era New Normal
sumber: lenidisini.wordpress.com

Terkait dengan e-commerce ini, ada dua alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha pertanian, yaitu bekerja sama dengan marketplace atau membuat online-shopping sendiri. Marketplace adalah sebuah layanan web yang bertindak sebagai perantara antara penjual dan pembeli di dunia maya (Mubarok, 2020). Marketplace bertindak sebagai pihak ketiga dalam transaksi online dengan menyediakan tempat berjualan dan fasilitas pembayaran.

Di Indonesia sudah ada beberapa marketplace yang menjual aneka produk pertanian. Paling sedikit ada lima market place saat ini, yaitu (1) TaniHub, (2) Petani, (3) PantauHarga, (4) Limakilo, dan (5) SiKumis.com. Kehadiran marketplace memang sesuai dengan harapan Presiden RI bahwa pengembangan sarana dan prasarana teknologi informasi ini dilakukan untuk memangkas rantai distribusi hasil produksi dari petani kepada konsumen. Sinergi pemasaran ini melibatkan tiga kementerian, yaitu Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Pada masa Pandemi Covid 19, salah satu marketplace (TaniHub) mengungkapkan ada peningkatan penjualan dan bisnis perusahaan. Sebagaimana dilansir Kumparan (8 Juni 2020) bahwa permintaan pelangganTaniHub untuk segmen ritel atau business to customer melesat hingga 300% selama masa pandemi. Peningkatan terbesar datang dari wilayah Jabodetabek atau daerah awal kebijakan WFH diterapkan. Selama kondisi outbreak, penjualan buah, sayur, sembako, dan hasil tani lainnya pada TaniHub Group mengalami peningkatan tajam karena komoditas ini merupakan kebutuhan dasar.

Selain melalui e-commerce, upaya meraih keuntungan bisnis pada masa pandemi juga dapat dilakukan dengan diversifikasi tanaman/komoditas. Pada saat pandemi berbagai jenis tanaman rempah dan obat (herbal) banyak diburu konsumen karena merupakan bahan penguat imunitas tubuh. Hal ini didukung oleh Bank Indonesia (BI) yang telah melakukan survei terhadap 3.719 pelaku usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya, terjadi penurunan kegiatan dunia usaha di Kuartal I-2020 selama pandemi. Namun ada empat usaha yang semakin tinggi omzet dan keuntungan yaitu konveksi APD, makanan olahan beku, masker kain dan rempah-rempah.

Berbagai sumber berita nasional menyebutkan bahwa saat panemi Covid-19 harga tanaman empon-empon sempat melambung tinggi. Selain jahe, bahan herbal lainnya yang juga naik adalah temu lawak, kencur, kunyit dan serai. Dengan situasi pandemi yang belum tahu kapan berakhir, prospek permintaan komoditas bahan herbal diperkirakan masih relatif tinggi. Artinya Selama vaksin atau obat Covid-19 belum ditemukan, komoditas rempah tetap akan dicari untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Bahkan, komoditas rempah potensial untuk menjadi obatnya. Untuk komoditas tertentu yang juga memiliki khasiat sebagai obat pada saat pandemi dan new normal juga memiliki nilai jual yang tinggi. Misalnya mengolah bahan baku kelapa menjadi Virgin Coconut Oil (VCO). Harga VCO berkali-kali lipat bila dibandingkan dengan harga bahan bakunya.


Penutup

Peluang Bisnis Pertanian pada Masa Pandemi dan Era New Normal
sumber: alinea.id

Pemerintah dapat menjadi motivator dan fasilitator bagi petani untuk bekerja sama dengan dengan platform-platform jual beli produk pertanian secara online. Misalnya, di kawasan Jadebotabek sudah ada platform Sayurbox, Kecipir maupun TaniHub yang secara faktual penjualannya mengalami peningkatan pada pandemi COVID-19 dan era new normal. Petani (melalui gapoktan) bisa menjadi supplier dari beberapa platform online tersebut. Platform online menjadi jembatan atara petani ke konsumen dengan harga yang sesuai pasaran dan perlu diperluas jangkauannya.

Alternatif selain bekerja sama dengan platform e-commerce, pemerintah (Kementan) dapat langsung memberikan pelatihan kepada gapoktan/asosiasi petani di sentra produksi (terutama sayuran) untuk bisa membuat web online-shop sendiri. Cara ini lebih membuat kelompok tani lebih mandiri dalam pemasaran produk secara daring. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan membuat website atau pemasaran berbasis IT. Sebagai konsekuensi harus tersedia infrastruktur telekomunikasi yang memadai. Petani milenial yang umumnya lebih paham tentang IT sekaligus untuk menarik kaum muda milenial untuk terjun ke usaha pertanian.

Diakui bahwa sebagian petani masih menjalankan pemasaran secara konvensional (offline) dengan sasaran pasar/konsumen di pasar tradisional. Mereka tidak mudah untuk dialihkan ke pemasaran daring karena keterbatasan teknologi/sumberdaya dan pangsa pasar daring masih relatif kecil. Untuk petani tradisional/konvensional yang utama adalah adanya jaminan ketersediaan input produksi baik pupuk, bibit, dan saprodi lainnya dengan harga yang terjangkau. Mereka tetap difungsikan sebagai pemasok utama di pasar tradisional.

0
0
0
s2smodern
powered by social2s