APA ITU RESESI?

Menyikapi Resesi di Tengah Pandemi Covid-19
sumber: cuplik.com

Resesi dalam siklus bisnis terjadi ketika pertumbuhan ekonomi melampaui puncaknya (booming) dan menuju titik terendah (purge). Selisih antara puncak pertumbuhan ekonomi dengan potensi Produk Domestik Bruto (PDB) disebut kesenjangan inflasioner (inflationary gap), dan selisih titik terendah PDB dengan potensi yang ada disebut kesenjangan resesi (recessionary gap). Resesi terbesar yang pernah terjadi di dunia dikenal dengan Great Depression yang berlangsung dari akhir tahun 1929 hingga tahun 1930-an (Parkin 2014).

PDB diukur dari penjumlahan investasi, konsumsi, belanja pemerintah, dan ekspor neto (nilai ekspor-nilai impor) pada periode tertentu, biasanya diukur per triwulan atau per tahun. Pertumbuhan ekonomi diukur melalui pertumbuhan PDB. Ekonomi dikatakan resesi jika selama dua triwulan berturut-turut mengalami pertumbuhan minus. Negara-negara yang sudah menyatakan resesi karena pengaruh pandemi Covid-19 adalah Jerman, Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Hongkong, dan Inggris. Negara yang menyatakan di ambang resesi adalah Australia.

Bagaimana dengan ekonomi Indonesia? Pada triwulan pertama 2020 ekonomi Indonesia masih tumbuh positif, tetapi hanya 2,97% atau lebih rendah 2,1% dibanding triwulan pertama 2019 yang mencapai 5,07% (BPS 2020). Triwulan kedua 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia -5,32%. Jika triwulan ketiga ekonomi tetap anjlok, maka kita masuk jurang resesi. Untuk itu, pemerintah sekuat tenaga berupaya supaya triwulan ketiga ekonomi bisa tumbuh positif agar tidak terjadi resesi. Masihkah PDB sektor pertanian sebagai penghela pertumbuhan ekonomi akan tumbuh perkasa pada triwulan ketiga seperti triwulan kedua tahun ini? Kita lihat kinerja sektor pertanian selama triwulan ketiga tahun ini.

Hanya ada tiga lapangan usaha yang tumbuh positif dari triwulan pertama ke triwulan kedua 2020, yaitu pertanian, infokom, dan pengadaan air masing-masing 16,24%, 3,44%, dan 1,28%. Sektor pertanian hanya tumbuh 2,19% pada triwulan kedua 2020 dibanding triwulan kedua tahun 2019. Memang masih relatif bagus dibanding sektor usaha lainnya yang pertumbuhannya minus. Artinya, sektor pertanian masih tumbuh selama masa pandemi Covid-19, tetapi tidak mampu menciptakan lapangan kerja baru yang signifikan.

SIAPA PALING TERDAMPAK RESESI?

Negara-negara yang banyak mengandalkan pendapatannya dari ekspor dan pariwisata adalah yang paling terpengaruh oleh resesi. Ekspor menjadi terhambat karena daya beli di berbagai negara menurun. Dampaknya adalah harga komoditas ekspor terjun bebas. Pendapatan produsen komoditas ekspor, termasuk petani maupun perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, ikut tergerus. Kondisi akan lebih parah lagi jika ekspor anjlok tetapi impor melonjak, sehingga pertumbuhan PDB akan menurun karena ekspor neto menjadi sangat minus.

Pariwisata juga terpukul seiring pendapatan masyarakat yang berkurang ditambah kehati-hatian para wisatawan untuk menghindari penularan Covid-19. Kemampuan sebagian masyarakat untuk berwisata sebenarnya masih ada. Salah satu tujuan wisata di Kabupaten Bogor yaitu Puncak, mulai ramai dikunjungi pada akhir pekan maupun hari libur sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan.


Menyikapi Resesi di Tengah Pandemi Covid-19
sumber: detik.com

PHK terjadi pada para karyawan hotel karena tamu yang menginap, baik wisatawan asing maupun domestik serta kegiatan untuk tujuan bekerja di luar daerah maupun pertemuan di hotel, turun drastis. Restoran juga sepi pengunjung karena PSBB. Usaha katering yang memasok makanan ke para pegawai kantor, perusahaan, serta untuk para tamu pesta ikut terdampak. Untuk keperluan logistik hotel, restoran dan katering memerlukan pasokan komoditas pertanian cukup banyak, seperti minyak goreng, telur, daging, sayuran, dan pasti beras. Secara umum, permintaan beras tetap stabil karena sebagai bahan pangan pokok. Tetapi permintaan komoditas pangan selain beras, seperti sayuran, selama pandemi Covid-19 turun sangat banyak. Awal masa pandemi Covid-19 merupakan waktu yang tidak bersahabat bagi para petani maupun peternak.

Pendapatan pemerintah daerah juga terdampak resesi karena jasa dari periklanan berkurang. Banyak papan iklan billboard kosong karena tidak ada pemasang iklan lagi. Iklan merupakan salah satu cara promosi oleh produsen atau perusahaan pemasaran agar konsumen bersedia membeli produknya. Lesunya perekonomian tidak lagi mendorong produsen untuk beriklan.

Di televisi, misalnya, iklan yang masih bertahan umumnya hanya tentang makanan dan minuman yang notabene adalah kebutuhan pokok. Iklan kebutuhan sekunder seperti produk elektronik, motor, mobil, barang elektronik, dan wisata tidak lagi muncul. Iklan di televisi (sebagai salah satu media massa yang masih populer) yang relatif mahal biayanya dapat menjadi indikator suatu perekonomian. Materi iklan yang ditawarkan media massa adalah yang sesuai jenis kebutuhan dan kemampuan daya beli masyarakat. Dari iklan tersebut sudah terbaca bahwa konsumen lebih mendahulukan kebutuhan pokok. Fakta juga menunjukkan pusat-pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi konsumen adalah supermarket yang menjual kebutuhan pokok seperti beras, sayuran, buah, daging, minuman, dan camilan. Kebutuhan sehari-hari seperti produk untuk menjaga kebersihan maupun sanitasi juga tetap laris.

Kreditur termasuk perbankan juga mengalami kesulitan menagih kredit dari debitur. Resesi menyebabkan banyak kredit macet, seperti perumahan, mobil, dan motor. Pegadaian banyak dikunjungi konsumen untuk mendapatkan pinjaman uang kontan secara cepat dan mudah dengan menggadaikan barang-barang berharga seperti mobil, perhiasan, bahkan laptop (detik.com 2020). Sebaliknya, perbankan mengalami kesulitan menyalurkan kredit. Berbagai rencana disiapkan untuk mendorong masyarakat bersedia meminjam kredit ke bank untuk kebutuhan konsumtif maupun produktif. Rencana stimulasi pemerintah untuk peningkatan penyaluran kredit perbankan meliputi: (i) kredit bunga nol persen untuk usaha mikro kecil dan menengah UMKM); (ii) subsidi bunga melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR), perbankan, dan lembaga pembiayaan kepada UMKM; (iii) kredit tanpa agunan oleh Bank Mandiri kepada usaha kecil menengah (UKM); (iv) bantuan kredit untuk modal usaha yang dilakukan oleh Bank BRI; dan (v) kredit mitra gofood bunga 6 persen yang dilakukan oleh Bank BNI (bisnis.com 2020). Kita berharap semoga semua program tersebut terealisasi dengan baik dan berdampak baik bagi dunia usaha.


APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Menyikapi Resesi di Tengah Pandemi Covid-19
sumber: detik.com

Keringan angsuran kredit. Pemerintah menetapkan bahwa angsuran kredit ditunda selama enam bulan dan debitur tidak perlu membayar bunga angsuran selama masa penundaan tersebut. Aturan ini merupakan salah satu langkah tepat pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19. Sasaran utama kebijakan ini adalah nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan pinjaman maksimal Rp500 juta. Sebanyak 11,9 juta nasabah KUR diberikan relaksasi berupa penundaan pokok angsuran selama enam bulan. Selain itu, pemerintah akan menanggung penuh bunga KUR untuk tiga bulan pertama dan memberikan diskon 50 persen untuk bunga KUR tiga bulan berikutnya. Pemerintah juga mempercepat pembayaran klaim asuransi pertanian. Tetapi tidak semua nasabah atau kredit dapat memperoleh keringanan ini, misalnya para debitur koperasi. Kebijakan ini sebenarnya juga akan diberlakukan bagi nasabah koperasi tetapi umumnya secara terbuka para pengurus koperasi menolak walaupun ada surat imbauan dari para kepala daerah setempat. Alasannya adalah koperasi tidak mempunyai dana talangan untuk penundaan angsuran kredit tersebut yang dianggap cukup lama (enam bulan). Koperasi bisa bangkrut jika anggotanya menunda membayar kredit hingga setengah tahun. Hal ini dinyatakan oleh salah satu pengurus Koperasi (Credit Union) Sang Timur di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur[1].

Percepatan tanam padi. Kementerian Pertanian pada musim tanam kedua (MT II) tahun 2020 ini mempunyai sasaran percepatan tanam padi seluas 5,6 juta hektare di berbagai provinsi sehingga pada bulan Juli-Desember 2020 dihasilkan 12,5 – 15 juta ton beras. Upaya ini untuk mendukung ketersediaan pangan selama pandemi (cnbcindonesia.com 2020). Kementerian Pertanian juga mempercepat pengadaan bantuan benih hortikultura agar petani dapat segera menanam komoditas hortikultura, khususnya sayuran. Kebijakan tersebut sangat relevan tetapi harus dilakukan secara tepat sasaran agar efektif dan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, khususnya para petani. Kementerian Pertanian juga melakukan program penyerapan ayam hidup (livebird) untuk stabilisasi harga perunggasan rakyat (ekonomi.bisnis.com 2020).

Berhemat. Kata ini mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan, jika kita punya uang yang cukup. Mengapa harus berhemat? Kita belum mengetahui sampai kapan pandemi ini berakhir hingga ditemukannya vaksin Covid-19 dan sebagian besar penduduk diberi vaksin. Pembelian kebutuhan pokok seperti bahan makanan menjadi yang utama, termasuk berbagai asupan seperti makanan sumber vitamin dan rempah-rempah yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Kebutuhan sekunder seperti barang-barang elektronik dan apparel (berbagai jenis pakaian) memang belum banyak dibeli masyarakat terlepas dari berbagai model baru yang rutin diperkenalkan oleh para produsen.

Menabung. Sebenarnya menabung adalah kebalikan dari berhutang atau kredit. Keadaan yang tidak menentu karena pandemi mendorong orang untuk berhati-hati menggunakan penghasilan yang diperoleh saat ini untuk berjaga-jaga pada masa mendatang. Walaupun demikian memang menabung tidak mudah dilakukan, misalnya orang tua murid atau mahasiswa harus tetap membayar biaya dan keperluan pendidikan anggota keluarga. Pembelian pulsa dan pengadaan telepon cerdas (smart phone) merupakan tantangan tersendiri bagi para orang tua yang anak-anaknya masih sekolah/kuliah. Anak-anak harus belajar jarak jauh melalui daring di tengah minimnya bantuan pemerintah untuk mengatasi hal ini. Selain itu kebutuhan pokok harian juga harus dibayar termasuk pembayaran listrik dan air yang tiap bulan merupakan keperluan rutin.

[1] Data primer melalui wawancara telepon


Menyikapi Resesi di Tengah Pandemi Covid-19
sumber: rakyatrukun.com

Tunjangan pegawai. Pemerintah perlu waspada jika menabung dan berhemat dilakukan oleh masyakarat secara besar-besaran karena akan memperlambat ekonomi. Untuk itu pemerintah harus mendorong masyarakat agar tetap berbelanja di tengah resesi ini. Kebijakan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) oleh pemerintah maupun swasta dapat mendorong belanja masyarakat. Demikian pula pemberian gaji ke-13 oleh pemerintah kepada ASN bisa dianggap sebagai stimulasi di tengah resesi. Kebijakan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah antara lain tunjangan Rp600.000 per bulan bagi para pencari kerja. Selain itu pemerintah juga meluncurkan tambahan insentif Rp600.000 per bulan selama empat bulan bagi para karyawan. Fokus bantuan pemerintah ini adalah sebanyak 13,8 juta pekerja non-PNS dan BUMN yang aktif terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dengan iuran di bawah Rp 150.000 per bulan atau setara dengan gaji di bawah Rp 5 juta per bulan. Kebijakan lainnya yang lebih dulu diberlakukan adalah pembebasan pajak (ditanggung oleh pemerintah) bagi pegawai yang pendapatan kotornya kurang dari Rp200 juta per tahun. Mungkin berbagai kebijakan tersebut belum menyentuh semua lapisan masyarakat, tetapi diharapkan dapat membantu selama pandemi.

Pembelian langsung kepada petani. Para pegawai di lembaga pemerintah maupun swasta dapat melakukan pembelian langsung kepada petani secara berkelompok. Contoh yang bagus, misalnya, para pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto (Jawa Timur), bahkan sudah lama membeli beras langsung kepada kelompok tani setempat. Harga yang ditawarkan dari petani juga wajar dan para pegawai bisa mendapatkan beras kualitas baik dari hasil panen yang masih relatif baru. Hal ini akan sangat membantu para petani dalam masa pandemi seperti ini. Contoh lain, petani muda di Pulau Bali yang bergabung dalam Koperasi PMK (Petani Muda Keren) melalui BOS (Bali Organik Subak) Fresh menawarkan berbagai produk seperti sayuran dan buah-buahan memalui aplikasi yang bisa diunduh melalui handphone. Kegiatan ini sudah lama dirintis dan manfaatnya bagi para petani yang bergabung dalam Koperasi PMK sangat terasa dalam masa pandemi Covid-19 ini. Produk pertanian yang dijual tetap laris karena sudah mempunyai pasar yang tetap (captive market).

PENUTUP

Agar berdampak efektif, diperlukan upaya kebijakan kreatif oleh pemerintah dalam menyikapi pandemi ini. Kebijakan kreatif tersebut perlu diambil oleh seluruh jajaran kementerian/lembaga menurut tugas dan tanggungjawab masing-masing untuk menggerakkan ekonomi. Kebijakan seperti sosialisasi, promosi, dan advokasi atas produk pertanian atau UMKM, misalnya, dapat dilakukan pemerintah dengan melibatkan para pelaku usaha, terutama di daerah, hingga mampu mendorong perputaran ekonomi pada skala tertentu.

Peran aktif seluruh lapisan masyarakat juga sangat menentukan. Rasa solidaritas, baik produsen maupun konsumen, sangat diharapkan agar krisis ekonomi selama pandemi ini dapat ditanggung bersama dan segera dapat diatasi. Kondisi krisis ekonomi ini perlu disikapi dengan bijak, seperti kata pepatah lama: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

0
0
0
s2smodern
powered by social2s