1. Covid-19 Updated

Updated per 5 September  2020, Covid-19 yang menyerang lebih dari 26,17 juta jiwa di 126 negara, jumlah yang meninggal mendekati 865 ribu jiwa dan sembuh mencapai 11,9 juta jiwa. Jumlah kasus Covid-19 tertinggi adalah di Amerika Serikat  yaitu  6 juta jiwa, dengan kasus kematian mencapai 660 ribu jiwa dan jumlah yang sembuh mencapai 5,34 juta jiwa. Sementara Indonesia menduduki peringkat ke 23 dengan 190,6 ribu kasus, jumlah kematian 7.940 jiwa, dan yang sembuh mencapai 136,4 ribu jiwa.

Untuk kawasan Asia, Indonesia menduduki peringkat ke 8, sementara India masih menjadi negara tertinggi  dengan kasus Covid 19 terbanyak. China, menduduki peringkat ke 29 dunia dengan jumlah kasus sebanyak 84.385 kasus terdiri dari 4.634 pasien meninggal dunia, 79.003 pasien sembuh dan terdapat 748 kasus aktif.

 Sumber: pixabay.com

Filipina dan Indonesia merupakan 2 negara dengan penambahan kasus yang cukup tinggi dalam sehari. Filipina dan Indonesia mengalami penambahan kasus Covid-19 per hari mencapai lebih dari 3.000 kasus per hari,

Pandemi Covid-19 selain mengakibatkan banyak kematian di dunia, memberikan dampak negatif pada perekonomian dunia termasuk Indonesia. Beberapa ahli ekonomi  memprediksi pandemi Covid-19 akan mengakibatkan resesi dunia.   

  1. Belajar dari pengalaman flu spanyol

Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh muka bumi bukanlah pandemi pertama dalam sejarah peradaban manusia. Pada jaman modern, pandemi flu Spanyol yang terjadi sesudah perang dunia pertama, yaitu tahun 1918 - 1920 bahkan menimbulkan kematian yang mencapai 50-100 juta orang di dunia. Di Indonesia sendiri yang dulu dikenal dengan nama Hindia Belanda, terdapat 1.5 - 2.5 juta penduduk yang meninggal akibat wabah tersebut. Kalau kita cermati, langkah proaktif yang dilakukan pemerintah di hampir semua negara ketika wabah tersebut menyerang adalah dengan melakukan pembatasan sosial berskala besar (social and physical distancing) yang waktu itu lebih dikenal dengan istilah “non pharmaceutical intervention”. Intinya sama, yaitu penduduk dilarang untuk berkumpul dan mengadakan kegiatan yang mengumpulkan massa, dipaksa untuk tinggal di rumah dan untuk sementara waktu kegiatan ekonomi dikurangi atau bahkan dihentikan. Tentu saja dampak dari kebijakan pembatasan sosial ini menciptakan “kenormalan baru”, terutama beberapa saat setelah meredanya wabah flu Spanyol, tetapi jelas berangsur sebagian kembali ke kenormalan lama.

Yang menjadi pertanyaan adalah benarkah setelah berhentinya wabah pandemi Covid-19 manusia akan hidup di satu “dunia yang sama sekali baru”, yang berbeda dengan dunia yang kita kenal selama ini? Ini menjadi satu diskusi yang menarik, bukan hanya di kalangan awam, tetapi juga  di kalangan scholar dalam ranah manajemen stratejik. Banyak orang yang “latah” mengatakan bahwa semuanya akan berubah dan kita akan hidup di dunia “new normal” atau kenormalan yang baru, yang ditandai dengan manusia yang lebih banyak hidup menyendiri di rumah, menjaga social and physical distancing, manusia yang jauh lebih peduli pada higienis, manusia yang punya banyak waktu luang untuk menciptakan keseimbangan antara kerja dan kebahagiaan, manusia yang enggan menjelajah (travelling) karena takut terpapar virus baru dan bahkan menjadi manusia a-sosial yang enggan berpelukan, berjabat erat dan berkumpul.

Betulkah akan selamanya seperti ini. Semua kita berdoa agar Covid-19 segera berlalu agar kita dapat kembali dalam kehidupan normal seperti yang lalu. Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN),  kita semua rindu dengan Rapat Kerja (Raker), Rapat Kordinasi (Rakor); Sosialisasi, Pelatihan, Bimbingan Teknis (Bimtek), Monitoring Evaluasi (Monev), Perjalanan Dinas Dalam dan Luar Negeri, menghadiri Sidang Tahunan, Senior Official Meeting , Ministrial Meeting, International Conference, World Expo…. Ah banyak lagi yang kita rindukan, yang pada dasarnya bertemu dan bertatap muka….. berjabat tangan, berpelukan dan kehangatan seperti dulu…. Kita juga rindu sekedar ngopi-ngopi di café.

Kita rindu reuni mulai dengan teman semasa TK, SD, SMP, SMA, S1, S2 dan S3, kursus singkat Lemhannas, Diklat Kepemimpinan, bahkan rindu untuk berkumpul sekedar arisan RT, arisan Keluarga dan Arisan Dharma Wanita. Kita rindu menghadiri acara  perayaan pernikahan yang menjadi ajang kumpul keluarga, sanak saudara, sahabat lama dan para relasi.  Kita rindu merayakan wedding anniversary, ulang tahun cucu, bahkan mencari-cari alasan seperti mengadakan open house saat idul fitri, idul adha, natal atau hari besar keagamaan lainnya. Kita juga rindu sekedar JJP atau Jalan Jalan Pagi bersama di Kebun Raya Bogor. Semoga obat-obatan dan vaksin anti Covid-19 segera ditemukan dan efektif dalam menangani pandemi Covid-19.

Sejarah dari pandemi flu Spanyol tahun 1918 mencatat terjadinya gelombang pandemi kedua ketika belahan bumi utara kembali mengalami musim dingin pada tahun 1919 dan ini bahkan mengakibatkan jatuhnya korban yang jauh lebih besar. Tetapi perlu dicatat bahwa saat itu teknologi kesehatan masih jauh tertinggal dan bahkan antibiotik yang sekarang dipercaya mampu mengatasi infeksi sekunder dari pandemi flu baru ditemukan dan diproduksi massal tahun 1927. Pada akhirnya life must go on, kita berharap dengan kehendak Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang semoga pandemi Covid-19 segera berlalu seperti lagu Chrisye “Badai Pasti Berlalu” dan kehidupan dalam tatanan New Normal segera kembali pada kehidupan normal seperti kondisi sebelum pandemi covid 19.


  1. New Normal akan bertahankankah?

Perilaku New Normal akan bertahankah? Untuk sementara waktu, mungkin akan bertahan  karena kita  masih dihantui oleh berita ancaman kematian  akibat covid-19. Tetapi ketika keadaan benar-benar sudah reda dan vaksin sudah ditemukan, apakah semuanya akan balik ke kondisi normal yang lama atau  “new normal”? Saat ini ketika PSBB mulai dilonggarkan kita sudah melihat kenormalan baru juga sudah mulai longgar bahkan cenderung ditinggalkan sehingga harus ada razia masker, sudah banyak kegiatan nongkrong bersama tanpa menggunakan masker, jalanan ke Jakarta dan ke puncak mulai macet, kuliner di Bogor tanpa protap Covid 19, pelayan tidak lagi menggunakan masker dan sarung tangan… ah memang kita manusia bebas yang sulit juga menerapkan kebiasaan baru pakai masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan…

Selama PSBB keberadaan tehnologi IT memungkinkan manusia yang sedang dikurung dalam sangkar seperti burung, tetap menjaga silaturahmi dengan sesama dan kerabatnya lewat pertemuan virtual, arisan virtual bahkan belajar fitnes atau yoga secara virtual. Para asisten rumah tangga dan para pengemudi pun mulai biasa dengan zoom, google meet, cloud … dengan teman seprofesi untuk hanya menanyakan dan bertukar resep dan cara memasak dan membuat empon-empon.  Ketika keadaan benar-benar telah kembali normal, apakah kebutuhan manusia untuk berinteraksi fisik secara langsung akan sirna? Tentu tidak, karena ini adalah kodrat manusia sebagai mahluk sosial. Mungkin pelan, tapi pasti, kenormalan baru akan bergeser lagi ke kenormalan lama, beberapa mungkin dengan sedikit penyesuaian.

Bagaimana dengan kepedulian manusia akan higienis yang saat ini meningkat drastis seperti rajin mencuci tangan, selalu memakai masker, dan menjaga kebersihan tubuh. Saat ini semua itu dilakukan terpaksa, bahkan harus  dikeluarkan SK dan ada ancaman denda, semata-mata urusan hidup dan mati, demi tidak terpapar covid-19, sehingga dapat tetap hidup dengan sehat. Ketika ancaman itu mereda, kebiasaan lama akan kembali. Mencuci tangan hanya saat akan makan, pakai masker yang kadang membuat sesak bernafas, lebih nyaman kalau dibuka saja, lebih cantik dan sexy kalau difoto tanpa masker dan kelihatan senyum manisnya.

Bentuk kenormalan baru yang sering diramalkan adalah penjualan daring (online) yang diperkirakan akan meningkat drastis bahkan ada yang memprediksi jumlahnya akan mengalahkan penjualan luring (offline). Dengan atau tanpa adanya pandemi Covid-19, penjualan online memang mengalami peningkatan di seluruh dunia. Jaman dahulu mana ada sih orang beli casing HP, popok bayi, sayuran dan daging, perangkat elektronik sederhana dan kue nastar secara online? Sekarang ini adalah hal yang umum, bukan semata karena pandemi. Pada masa PSBB di mana semua aktivitas bisnis dipaksa tutup, ya tentu saja kita hanya bisa membeli secara online. Pandemi Covid-19  hanya menjadi katalisator dari pergeseran pola belanja dari offline menjadi online dan bukan sebagai causa prima. Hanya saja yang berbeda jika sebeum pandemi lebih banyak kaum milennial yang memanfaatkan teknologi ini, sekarang hampir semua ikut memanfaatkan media sosial dan penjualan melalui online mulai dari ibu-ibu se-RT, teman sekantor, para pegawai, ART, dan bahkan penjualan kopi di gerai café semua beralih menggunakan moda online.

  1. Kucoba Bertahan di saat pandemi

Pandemi Covid-19  menciptakan kenormalan baru di mana “broadcast television is fighting back” dari sebelumnya yang sudah jauh dikalahkan oleh streaming. Ini ditandai dengan peningkatan drastis jumlah pelanggan TV berbayar seperti Netflix. Benarkah ini akan sustainable (berkesinambungan)? Saat ini di tengah keleluasaan waktu akibat dipaksa libur atau istilah kerennya “working from home”, manusia memang jadi punya banyak waktu diam di rumah. Bahkan banyak yang bersih-bersih rumah akibat saking nganggurnya. Kecanduan nonton film box office masih akan tersisa ketika ekonomi sudah pulih,

Kita harus berpikir positif dengan segala keadaan, termasuk keadaan dampak pandemi Covid -19 kali ini, agar produk dari sikap kita jadi energi positif. Sama artinya kita harus secepatnya mampu beradaptasi dengan segala kondisi, termasuk mampu adaptasi bertahan hidup bebas dari ancaman Covid-19 maupun kelaparan, karena dua hal ini sedang paralel mengancam kehidupan semua manusia. Kondisi ini yang ditunjukkan dengan semakin bertambahnya jumlah negara yang berstatus resesi.

Pada hakekatnya manusia perlu waktu untuk beradaptasi. Tetapi ketika tuntutan pekerjaan sudah kembali normal, mana ada waktu lagi untuk leyeh-leyeh nonton film? Waktunya akan kembali dihabiskan untuk “mengukur jalanan” di sela-sela kemacetan lalu lintas yang menjadi ciri khas kota metropolitan dan hanya menyisakan kelelahan fisik dan mungkin juga kelelahan batin setibanya di rumah.


Sungguh dapat pembelajaran kisah beberapa sahabat pemilik usaha kopi besar maupun kecil yang akibat pandemi Covid-19 ini, logikanya usahanya hancur. Ternyata tidak demikian, mereka mampu cepat adaptasi, menghindari dan mengatasi masalahmya. Pengusaha kopi membuat strategi baru atau melakukan reorientasi bisnisnya.

Mengawali bisnis baru memang banyak tantangannya namun banyak juga potensi peluangnya, sehingga perlu kaji ulang, tata ulang dan target juga diposisikan ulang yang terukur oleh daya capai maupun waktu yang dibutuhkan. Sikap mental adaptif dengan situasi seperti inilah  harus banyak dilakukan untuk tetap bertahan.  

Selama ini usaha café-nya melibatkan  banyak orang, dan banyak mendatangkan orang. Minum kopi atau ngopi-ngopi sudah menjadi way of life masyarakat baik di kota maupun di pedesaan. Lalu reorientasi jadi  penjual kopi literan dadakan tidak melibatkan banyak orang agar meminimalkan resiko ancaman Covid-19, sebelum tabungannya habis hanya untuk hidup semata (cashflow tidak berimbang) dan ternyata sukses jadi penjual kopi literan.  Itulah sahabat di Bekasi.

Sebelum Covid-19 statusnya sebagai Barista, dirumahkan. Justru jadi batu ungkit lompat ke alam beda yaitu langsung jadi pelaku usaha. Menanamkan doktrin mental ke dalam dirinya bahwa harus bisa mandiri, keluarganya harus selamat, pendapatannya tidak boleh berhenti. Orang lain bisa, maka target buat dirinya harus bisa juga. Nyatanya banyak yang bisa. Jadilah pencipta lapangan kerja. Ini pengalaman sahabat yang menjadi trainer barista secara online dan membuka coffee completion secara online. Kegiatan semacam ini mungkin berubah menjadi kenormalan baru, diantaranya pertemuan virtual (zoom, hangout meeting atau sejenisnya) akan tetap menjadi trend karena memang terbukti efektif meningkatkan produktivitas kerja. Juga konsep pembelajaran jarak jauh (virtual learning) akan membuka banyak kesempatan bagi (maha)siswa untuk belajar sekolah-sekolah bagus yang seharusnya tidak lagi menjadi eksklusif bagi kalangan berduit dengan biaya sekolah yang mahal. Munculnya bakat-bakat terpendam dalam bidang food and beverage akan tetap memiliki peluang untuk bertumbuh pasca pandemi, bahkan membesar jika dikelola lebih profesional. Tetapi harus disadari bahwa tidak semua “kenormalan baru” yang terjadi selama dan beberapa saat sesudah pandemi Covid-19 akan bersifat sustainable.

Pengalaman sahabat lainnya seorang pioneer dan pejuang  kopi gayo dan punya hobi bersepeda adalah menjual kopi specialty dengan kemasan lebih kecil pada saat pandemi. Adapun pertimbangannya bahwa konsumen yang semakin berpengetahuan dan memahami pentingnya freshness dari kopi. Hal itu membuat mereka akan mempertimbangkan dan menyesuaikan ukuran atau jumlah produk dengan kecepatan konsumsi. Ditambah lagi pelajaran tentang pentingnya memiliki uang simpanan telah menyadarkan banyak orang bahwa pandemi ini, menurunkan  daya beli tapi tidak bisa menghilangkan kebiasaan minum kopi yang asli, berkualitas,  segar, dan spesial. Hal ini pun disiasati dengan menjual dengan kemasan yang lebih kecil. Misal, satu kali seduh. Selama pandemi Covid-19, usaha yang diperbolehkan buka adalah toserba (misal, supermarket). Banyak usaha kopi yang terpaksa tutup sehingga kesempatan untuk mengekspos produk terhadap konsumen secara langsung itu jadi lebih sulit. Dengan demikian memiliki produk eceran yang telah disertifikasi misal (PIRT, BPOM, Halal, atau SNI) dapat menjadi pilihan untuk bisa tetap menjual produk secara tidak langsung.

Usaha Café dan Roastery pada umumnya mempunyai karyawan yang handal dan loyal, karena bekerja atas dasar kecintaan terhadap profesi di bidang perkopian. Namun pemasukan yang rendah akibat kebijakan PSBB selama pandemi Covid 19 dan pengeluaran yang besar akan menjadi pengantar yang baik menuju kebangkrutan. Menerapkan sistem keuangan yang transparan adalah salah satu solusi untuk dapat bertahan pada saat dan pasca pandemi. Karyawan diajak untuk bersama mencari solusi misalnya semula satu orang pekerja menerima gaji sebesar 4 juta rupiah, untuk menghindari PHK maka gaji dikurangi menjadi 2 juta rupiah namun dengan skema insentif 2 juta rupiah lagi. Insentif ini hanya akan bisa diraih bila staf berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan, termasuk menjual kopi secara online.

  1. Penutup

Ketika ekonomi kembali dibuka, situasinya sementara akan berbeda dibandingkan dengan situasi yang kita sudah alami sebelum pandemi Covid-19. Kita masih tetap harus menjalankan protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik sampai pandemi ini benar-benar reda.  Untuk beberapa industri bahkan dibutuhkan waktu 12 – 18 bulan bahkan lebih lama lagi  untuk kembali ke kondisi benar-benar normal, yaitu sampai ditemukannya vaksin Covid-19. Kita yakin dengan kemampuan manusia beradaptasi dan dengan keinginan bertahan serta semangat tidak menyerah, insyaa Allah kita bisa tetap bertahan.  

Sejarah telah membuktikan bahwa badai sebesar apapun pasti akan berlalu. Badai akan meninggalkan beberapa riak gelombang, sebelum kembali mengalun dengan tenang. Ini tentu menyisakan peluang. Badai yang menerpa akan menyisakan puing yang berserak, menciptakan sebagian tatanan baru dan tentu saja memperkokoh tatanan lama. Sejarah yang akan membuktikan. Mari kita berdoa dan memohon pertolongan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa agar pandemi Covid-19 segera berlalu. Mari bersama menjaga kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan 3 M yaitu Mencuci Tangan, Memakai Masker, dan Menjaga Jarak. Semoga kita diberi umur panjang untuk menjadi saksi sejarah-Nya. Aamiin Ya Rabbal Aalamin

Baranang Siang, 05 September 2020

0
0
0
s2smodern
powered by social2s