Sumber: bayer.com

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita. Pengelompokan stunting didasarkan pada nilai indeks status gizi yang dibandingkan dengan baku pertumbuhan WHO. Menurut Buku Saku Pemantauan Status Gizi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan pada tahun 2017, indeks status gizi ada tiga pengukuran, yaitu (1) Berat Badan anak yang dicapai menurut Umur (BB/U); (2) Tinggi Badan anak yang dicapai pada Umur (TB/U); dan (3) Berat Badan anak dibandingkan dengan tinggi badan yang dicapai (BB/TB). Dalam perhitungan WHO, dikenal istilah Z-score, yaitu nilai simpangan BB atau TB dari nilai BB atau TB normal menurut baku pertumbuhan WHO. Contoh perhitungan Z score BB/U: (BB anak – BB standar)/standar deviasi BB standar. Menurut WHO, kategori stunting jika Z score kurang dari -2 SD (standar deviation), dengan indikator pertumbuhan TB/U tergolong pendek/stunded, BB/U tergolong kurang gizi, BB/TB tergolong kurus (wasted), dan Indeks Masa Tubuh terhadap umur (IMT/U) tergolong kurus (wasted).

Selain terlihat pendek secara fisik, anak stunting akan mengalami hambatan perkembangan kognitif dan motorik serta gangguan metabolik pada saat dewasa sehingga berpotensi mengalami penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung), penurunan kesehatan reproduksi dan kemampuan belajar serta tidak optimalnya produktivitas dan kapasitas kerja. Dampak bagi negara, menurut World Bank (2016), potensi ekonomi yang hilang setiap tahunnya akibat penurunan produktivitas kerja pada masa dewasa sekitar 2-3% dari PDB. Sementara itu, hasil analisis IFPRI (2013) menyatakan keuntungan dari investasi penurunan stunting di Indonesia dapat mencapai sekitar 48 kali lipat. 

Stunting disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya akibat kekurangan gizi yang kronis atau berlangsung dalam waktu lama sehingga anak lebih pendek untuk usianya. Selain itu, makanan yang dikonsumsi anak tidak cukup secara jumlah/porsi dan kualitas (makanan kurang beragam, bergizi dan seimbang), kurang sesuai dengan anjuran konsumsi untuk tumbuh kembang anak balita. Makanan yang dikonsumsi ibu sejak mengandung juga kurang memperhatikan hal tersebut.    

Rendahnya jumlah dan kualitas konsumsi makanan tersebut dapat disebabkan oleh faktor kemiskinan keluarga sehingga akses rumah tangga terhadap makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang mengandung dan/atau anak balita terbatas.  Penyebab lain yang sangat penting adalah praktik-praktik pola pengasuhan ibu yang kurang sesuai dengan tumbuh kembang anak balita. Ada dua pola pengasuhan, yaitu yang berkaitan dengan pola makan anak balita (seperti porsi, bentuk, pilihan jenis menu, frekuensi, dan lainnya) dan pola asuh lainnya, seperti penanganan yang dilakukan ibu jika anak menderita sakit dan yang lain. Aspek lainnya adalah terbatasnya akses rumah tangga terhadap layanan fasilitas air bersih, sanitasi dan kesehatan.


Peran Kaum Perempuan

Ada tiga cara untuk mencegah stunting yaitu melalui pola asuh, pola makan dan fasilitasi air bersih. Pola asuh dan pola makan ini berkaitan erat dengan perempuan. Tidak dapat disangkal jika perempuan mempunyai peranan penting dalam mewujudkan target penurunan yang dicanangkan oleh pemerintah. Dalam keluarga, perempuan berperan sebagai ibu, istri dan anak. Perempuan harus berperan multitalenta, sebagai pendidik, pengatur ekonomi, mewujudkan kebahagiaan dan penjaga keutuhan keluarga dan lainnya. Dalam kasus tertentu juga berperan sebagai penopang ekonomi keluarga.

 Sumber: pxhere.com

Peran sentral ini menuntut kaum perempuan untuk mempunyai pengetahuan yang cukup agar mampu mengelola keluarganya secara baik dan benar. Dalam pengasuhan anak balita, misalnya ibu dituntut mampu memilih makanan yang bergizi dengan porsi dan frekuensi sesuai dengan tumbuh kembang mereka. Sewaktu mengandung, ibu harus mengetahui perkembangan janin dan kebutuhan konsumsi pangannya, baik kebutuhan energi, protein, lemak maupun zat gizi mikro. Ibu juga harus tahu pola pengasuhan lain yang dibutuhkan oleh anak agar anak yang dilahirkan dan dibesarkan akan tumbuh optimal sesuai dengan pertumbuhan dan kecerdasan anak pada usianya.  Oleh karena itu, kesetaraan gender, pemberdayaan, dan perlindungan perempuan menjadi faktor penting untuk memastikan keterlibatan perempuan secara bermakna di dalam membangun generasi penerus dan pembangunan dalam arti luas.

Pandemi Covid-19 berdampak pada ekonomi masyarakat. Hasil Survei Sosial Demografi Dampak Pandemi Covid-19 yang dilakukan BPS secara online terhadap 87.379 responden menunjukkan bahwa 18,34% responden bekerja namun untuk sementara dirumahkan dan 2,54% terkena PHK. Hasil lain adalah 44,56% responden laki-laki dan 38,55% responden perempuan mengaku mengalami penurunan pendapatan. Sebesar 70,53% responden pada kelompok berpendapatan rendah mengaku mengalami penurunan pendapatan, sedangkan pada kelompok berpendapatan tinggi hanya 3 dari 10 responden. Pandemi Covid-19 dirasakan oleh sebagian besar masyarakat miskin, yang justru saat ini sebagian dari mereka juga mempunyai anak stunting. Dikhawatirkan pandemi Covid-19 justru akan menambah angka stunting baru. Oleh karena itu, pemerintah sudah semestinya melakukan penyesuaian kebijakan yang telah ditetapkan ataupun kebijakan baru untuk jangka pendek maupun menengah-panjang.

Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2020 yang baru dikeluarkan oleh BPS, jumlah perempuan sebesar 49,58% dari total penduduk yang mencapai 270,2 juta orang. Data dari Kemendikbud, jumlah perempuan tahun 2019/2020 yang bersekolah setingkat SMP, SMA termasuk sekolah kejuruan mencapai 9,88 juta orang atau sekitar 50% dari total anak sekolah. Jumlah mahasiswa tahun 2019 sekitar 7,3 juta, jika diperkirakan separuhnya perempuan, maka jumlah perempuan yang remaja dan dewasa diperkirakan mencapai lebih dari 13 juta orang.

Tentu ini merupakan potensi yang cukup besar untuk berkiprah dalam membangun generasi bangsa ke depan dengan berperan mencegah stunting atau kurang gizi pada anak-anak yang akan dilahirkan. Stunting dapat dicegah melalui 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), mulai awal umur kehamilan. Pada periode ini harus dipastikan bahwa ibu dan anak dalam kandungannya dalam kondisi sehat dan makanan yang dikonsumsi juga dalam jumlah cukup dan bergizi. Oleh karena itu, para ibu dan calon ibu harus diberi pengetahuan dan pelajaran yang cukup untuk tujuan tersebut melalui kurikulum pada pendidikan formal dan sosialisasi/advokasi melalui pendidikan non formal. Pada masa pandemi Covid-19, kegiatan pemantauan perkembangan dan pertumbuhan bayi dan balita, serta intervensi kesehatan ibu dan anak harus dipastikan tetap dapat dijalankan secara maksimal. Peran lingkungan terkecil seperti RT/RW, para kader kesehatan/ Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat sangat penting untuk membangun kebersamaan, semangat berbagi untuk warga yang membutuhkan.     


Peran Kementerian Pertanian

Percepatan penurunan stunting dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, Kementerian Pertanian berperan dalam intervensi gizi sensitif melalui berbagai program yang telah dilaksanakan setiap tahun secara konsisten. Pengentasan daerah rawan pangan dan penurunan angka stunting diantaranya dilakukan melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Pertanian Keluarga (PK). Program KRPL menjadi Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk mewadahi perluasan penerima manfaat program, yang semula hanya untuk kelompok wanita tani (KWT), diperluas dengan melibatkan Karang Taruna, Pesantren, Ormas lainnya dalam wadah Kelompok Usaha Bersama (KUB). Adanya perluasan penerima manfaat tersebut, diharapkan jumlah masyarakat yang terbantu dengan adanya program pemanfaatan lahan pekarangan semakin besar. Program Pertanian Keluarga bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan keluarga petani yang sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang dan mengentaskan wilayah rentan rawan dengan sasaran Poktan atau Gapoktan atau KUB yang melibatkan keluarga petani.

Selama lima tahun terakhir (2015-2019),  program KRPL telah dikembangkan oleh sekitar 13.209 KWT di seluruh Indonesia baik di perkotaan,  pedesaan atau periurban. Sasaran program pada dasarnya daerah miskin atau daerah rawan pangan (prioritas 1-3) berdasarkan hasil Food Security and Vunerable Atlas (FSVA), yang kemudian diperluas pada daerah lokus stunting. Penyesuaian ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan prevalensi rumah tangga rawan pangan dan stunting. Selain KWT, pelaksana program pekarangan dikembangkan oleh istri-istri para menteri yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) dan TNI. Pada tahun 2020, sasaran program P2L sebesar 3.456 kelompok yang tersebar di 34 provinsi dengan memberikan bantuan kepada masyarakat sebesar Rp 50 juta per kelompok. Bantuan digunakan untuk pembuatan rumah bibit, pertanaman di pekarangan dan demplot. Adanya pembatasan gerak  di masa pandemi Covid-19, kegiatan ini sangat cocok dilaksanakan karena kegiatan dilakukan hanya di sekitar pekarangan rumah namun dapat memberikan manfaat dalam bentuk penyediaan pangan bagi keluarga serta alternatif penambahan pendapatan rumah tangga. Hasil  dari kegiatan ini dapat langsung dimanfaatkan oleh keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangannya terutama sayuran dan atau hasil ternak unggas/ikan.    

 Sumber: pxhere.com

Keterlibatan kaum perempuan dalam program KRPL adalah tepat untuk berperan aktif dalam penurunan angka stunting dan mencegah kasus stunting baru. Anggota KWT dibekali tidak hanya terkait aspek budidaya, panen, dan pascapanen tanaman, namun juga pengetahuan dalam keterkaitan pangan, gizi, kesehatan dan kecerdasan anak. Kegiatan penyuluhan ini diperluas dengan melibatkan semua kaum ibu yang ada di desa dengan fasilitasi dari aparat desa, aparat puskesmas, dan penyuluh pertanian. Para ibu ini memberikan pengertian dan pemahaman ilmu yang diperoleh kepada anak atau cucu terutama anak perempuan. Model yang melibatkan semua pemangku kepentingan tingkat desa dan penyampaian manfaat secara berjenjang ini diharapkan penanganan stunting akan efektif dan berlanjut.

Kementerian Pertanian juga dapat berperan melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yang berada di berbagai daerah. Peran ini dilakukan melalui kurikulum tetap dan atau kegiatan lain. Jika diperlukan, pembekalan secara khusus dapat diberikan kepada mahasiswi Polbangtan. Dalam hal ini, manajemen Polbangtan dapat bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan atau Perguruan Tinggi yang mempunyai Program Studi Gizi. Para mahasiswi diharapkan dapat melahirkan generasi baru yang sehat dan berkualitas untuk memutus generasi stunting.

Penutup

Kaum perempuan di perdesaan maupun perkotaan serta di berbagai lapisan masyarakat sangat berperan dalam upaya pemerintah untuk menurunkan stunting. Berbagai pihak seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan termasuk Perguruan Tinggi, Kementerian Pertanian dan instansi lainnya baik institusi swasta maupun Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) juga memainkan peranan penting dalam mengatasi stunting. Tindakan secara terstruktur dan masif oleh seluruh pemangku kepentingan akan memberikan hasil yang baik dalam penanganan stunting.

0
0
0
s2smodern
powered by social2s